Sebagian orang kadang menghindar dari lembur biar gabut ya.
Tapi saya justru sebaliknya.
Saya lebih memilih lembur untuk menghindari gabut.

CINTA LEMBUR

Asal saya gak punya agenda mendesak dan penting-penting amat, saya langsung bilang “iya” kalau diajakin lembur.

Ya gimana mau nolak?
Dapat duit iya.
Kerjaan gak pernah tuh duduk diem di depan komputer.
Hahaha hihihi sama orang-orang.
Kenal banyak manusia baru dari penjuru manapun.
Menyapa kuli tinta sambil nemenin makan (gratis tur kesempatan buat pesen makanan mahal).
Lebih seringnya sih jalan-jalan keliling sampai gempor.

Gak enaknya?
Harus pinter pura-pura pasang muka “bahagia” atau “baik-baik” saja sekalipun lagi kacau gegara balon hijaunya meletus.
Harus punya cadangan “senyum” yang gak boleh habis, apalagi krisis.
Dan yang terpenting,
Mempertebal iman.
Menghindari goda’an diskon yang bisikannya lebih maut dari bisikan syaitan.

Tapi dibalik semua itu, saya hobi lembur karena jomblo.
Gak ada itu yang protes meski tiap weekend dan hari libur nasional saya masuk.
GAK ADA!

Ah, kayaknya asik kalau dibikin penelitian tentang hubungan status seseorang dengan tingkat semangat lembur!

Advertisements