Di suatu waktu yang entah kapan, saya tengah menikmati perjalanan bersama tiga teman saya.
Ketiganya sudah berstatus sebagai istri.
Otomatis, saya satu-satunya yang masih single (single dalam artian sebenarnya alias jomblo).

Saya lupa pembicaraan apa yang akhirnya membawa mereka pada pertanyaan,

“Di, mau tak jodohke po?”, kata teman saya, sebut saja mbak A.

“Ah, iya! Aku ki berniat menjodohkan Didi sama si X! Asli cocok banget liat mereka berdua!”, kata mbak B dengan penuh semangat.

“Lha kok cocok?”, saya bertanya.

“Habis sama-sama gila! Koplak!”, terangnya.

“Bener, kalau gak sama si X, ya sama si Y tu lho! Ra kalah koplak!”, si mbak A menimpali.

“Hahaha! Sayang dua-duanya wes ndak jomblo!”, kataku kalem.

“Wo, gak masalah nek itu! Janur belum melengkung kok! Tak bikin fia isa sama kamu, deh!”, mbak B masih bersemangat.

“Masalahnya, saya dan mereka itu beda: rosario dan arah kiblat! Berat bos!”, saya menjawab pura-pura sok semangat juga.

“Wah, wes susah nek itu”, akhirnya mbak B menyerah.

“Terus sama siapa ya? Oh, nganu! Si V atau si W itu lho! Jomblo semua kan!”, mbak C yang sedari tadi diam.akhirnya menimpali.

“Jangan, jangan! Gak cocok! Kalem-kalem begitu!”, mbak B menjawab paling cepat.

“Bener, janganlah! Ora iso koplak!”, mbak A menambahi.

“Lhah, jadi sebenarnya ada apa dengan koplak sih?”, saya bertanya dan menyadari betapa koplaknya saya dihadapan mereka.

Sampai-sampai,untuk mencomblangkan saya mereka memasang syarat utama: yang koplak.

Advertisements