Disebuah perjalanan dinas, saya tengah berbincang dengan seorang teman, sebut saja sempak.
Satu-satunya teman lelaki yang dari karakter hingga pikiran, bisa dibilang 11-12.
Ya, walaupun pada akhirnya saya dan dia sering berantem otot-ototan.

Sepanjang perjalanan itu, saya dan juga dia curhat, lebih tepatnya saling sambat sih.

“Eh cuy, mas-nya itu kok susah-susah gampang yo. Rasanya kayak main layangan”, kataku disela-sela sambat.

“Lha pie to? Katanya kamu jadi kenceng do’anya to semenjak mengenalnya? Doa’mu pie?”, dia balik bertanya.

“Aku nembungnya sama Tuhan gini sih. Kalau memang dia yang terbaik dekatkan secepatnya. Kalau bukan, ya jauhkan dengan segera. Tur aku juga bilang, biar aku dikasih manteb, apakah kudu maju atau mundur. Kalau manteb, ya aku minta dikuatkan dan disabarkan. Secara, aku sudah ngerti mas-nya seperti apa”, kataku.

“Nah, kalau do’amu seperti itu ya benar to? Tarik ulur yang kamu rasa itu gak perlu dipertanyakan. Kalau ujung-ujungnya lepas, berarti tandanya he’s not the answer. Lha hatimu sendiri gimana?”

“Sejauh ini sih, aku masih manteb”, kataku yakin.

“Lha kui, berarti dibalik mantebmu iku kamu mesti sabar. Gampangannya kayak aku ini. Belakangan aku selalu berdo’a biar dikasih kekuatan, ketabahan, dan kesabaran buat ngejalani hidup. Tapi apa? Yang ada malah masalah itu dateng terus. Kayak sekarang nih, justru perempuan yang aku seriusin ini benar-benar jauh dari perkiraanku. Dia keras kepala, susah ngertiin aku…”

“Eh, berarti do’amu didengar donk? Kan otomatis membuatmu lebih sabar, tabah, kuat kan?”, selaku.

“Nah, itu kamu paham! Jadi, kalau kamu merasa do’a-do’amu jauh dari kenyataan, coba cek sekali lagi. Percaya deh, Tuhan itu gak pernah salah mengabulkan. Kalaupun kamu merasa itu salah, berarti itu memang bukan yang terbaik dan yang bukan kamu butuhkan menurutNya”

“Masuk akal sih bro! Berarti kita harus sering-sering cek ulang do’a kita apa kan? Seengaknya, biar kita gak sering misuh tur ngeluh!”

Advertisements