Sebuah pertemuan singkat yang menjadi cerita-cerita panjang.

“Senja”
“Saya Lanang”

Kala itu kita berjabat.

IMG_7625
Suatu saat akan aku ceritakan tentang Lanang dan foto ini

Mulanya semua biasa saja, tidak ada alasan untukku terpesona padanya.
Seorang lelaki dengan tampang postur standar, gagah tidak, tinggi juga tidak terlalu.
Tapi belakangan ini aku tahu, bahu tegap dan dada bidangnya akan menjadi tempat terbaik untukku bersandar, kelak.
Aku menyukai bahunya!

Adalah Lanang, lelaki dewasa yang penuh dengan ambisi di kepala dan hatinya.
Bahkan dalam beberapa kali pertemuan dia tak pernah luput menanyakan.
“Tau gak sewa tanah yang potensial buat di sewa? Konsep udah mateng ini, tinggal tempatnya aja yang belum”
Gemerlap dan gelapnya pekerjaan yang dilakoninya, menyeretnya untuk menjadi mandiri.
“Aku juga harus punya sendiri donk!”, katanya di suatu perbincangan.

Adalah Lanang, satu-satunya anak lelaki dari dua bersaudara, adik dari seorang perempuan yang sudah menikah.
Lelaki dewasa yang saya yakini, setiap perempuan yang dekat dengannya akan bersaing dengan ibunya.
“Nang, nanti tolong temani liat kirab budaya ya!”, begitu pesan yang dikirimkan ibu untuknya disuatu pagi ketika kita bersama.
Nang, lucu ya? Aku sudah sangat jarang mendengar orang tua memanggil anaknya dengan panggilan Nang.

Adalah Lanang, sebuah nama yang tidak lagi membuatku terus menebak.
Aku memutuskan berhenti menebaknya, itu melelahkan ternyata.
Aku memilih untuk mengikuti, mengikuti arah kemana Lanang membawaku melangkah.
Eh bukan, bukan, aku memanggilnya maslaann.
Karena bagiku memanggilnya mas Nang tidak lagi lucu.
Cukup ibunya (dan ibuku) saja yang memanggilnya begitu kelak.

Jadi, tentang maslaann aku tidak tahu akan berhenti menceritakannya sampai kapan.

 

Senja,
KuCeritakanBahwaSebuahNamaAdalahLanang

Advertisements