(Masih) tentang catatan Senja untuk sebuah nama.

Sebuah pesan membuyarkan kekusyukanku bermain gitar.

“Hai kamu, kesepian bukanlah alasan yang baik untuk jatuh cinta”

Aku tersentak.
Sebisa mungkin membalas dengan pilihan kata yang masuk akal.

15875923_244821325953275_5549834397747773440_n
Source: Google Image

“Eh, maksudmu?”
“Semuanya butuh proses bukan? Harusnya kamu tau, jatuh cinta tidak semudah yang kamu rasa saat ini”

Habis sudah, aku kehabisan kata untuk membalasnya.
Ia membabat habis segala rasa, menyuguhkan realita.

“Ketahuailah Senja, banyak orang di luar sana yang tetap merasa kesepian meski telah jatuh cinta”
“Lalu, kita?”
“Hei,hei! Saya hanya ingin membuatmu berpikir sekali lagi. Kamu harus tahu satu hal, mengucap saya mencintaimu kepada perempuan sepertimu itu tidak mudah. Sebab, kamu bukan mereka, yang saya bisa lakukan apa saja semau saya. Kamu beda
“Ah, ini bukan tentang aku yang berbeda dari mereka. Itu hanya kamuflase saja kan? Jujur saja, bahwa sulit bagimu, sebuah nama, untuk menaruh hatimu pada perempuan sepertiku!” kataku mencercanya.

“Saya sudah katakan bukan? Mari hargai proses. Tidak perlu terburu-buru hanya takut dengan sepi!” Aku yakin, diseberang sana raut mukanya pasti mengeras.
“Iya, maafkan kalau aku salah” Aku melunak. Menyadari bahwa ia tak salah.

“Oh, dan satu lagi. Selesaikan dulu baik-baik”
“Heh?”
“Jangan bawa apapun yang sudah terjadi padamu di masa lampau. Saya tidak bisa membantumu. Kamu yang harus merampungkan sendiri, Senja. Sebelum memulai yang baru”

“Selesaikan dulu baik-baik”

 

MejaKantor,
MemaknaiCintaDiantaraSepi

Advertisements