Sebagian orang terlahir dengan kemampuan seperti ini.
Mampu mengejar yang mereka ingin, tapi takut memastikan ketika ingin itu mulai tergenggam.
Mereka bukan penyerah, tapi tak pernah pasti.
Mereka sulit bertanya, tapi selalu menebak.

20170423_085455.jpg
Seperti Menebak Waktu: Hasilnya Penuh Kejutan

Seperti aku, yang selalu berlari ke arahnya dengan terus menebak.
Padahal aku tau, ia bukan teka-teki dan aku bukan peramal.

Adalah sebuah nama, yang selalu memberi kabar seperlunya.
Mengirimkan pesan seperlunya.
Bertanya seperlunya.
Pun menjawab seperlunya.

Adalah sebuah nama, yang ketika bersamaku, ia menjelma menjadi pendongeng ulung.
Dalam setiap temu, ia tak pernah kehabisan kosa kata.
Ia bertutur segala hal dan selalu mampu membuatku terpesona.
Tak sedetik pun ia berikan pada hening.

Adalah sebuah nama, yang membuatku terus menebak.

Aku tau sejauh langkah yang kita tempuh tak ada bahasan tentang rasa.
Tapi, ada berjuta aksi-reaksi yang mampu menerjemahkan rasa.
Sialnya, lagi-lagi aku hanya bisa menebak makna aksi-reaksi itu.
Sebab aku takut bertanya.
Aku takut dengan jawaban, dengan kepastian.

Adalah sebuah nama, yang selalu ada di sana ketika aku berlari ke arahnya.

Menjadi ia, yang sempat menjadi tersangka akibat trauma dari kisah laluku.
Aku pernah menjadi begitu naif dan melayangkan tuduhan kepadanya.
“Aku sedang tidak dibohongi kan?”
Dan lagi-lagi, ia hanya menjawab melaui pesan singkat pesan seperlunya.
“Aku sedang tidak memikirkan apa yang kamu pikirkan. Kamu perlu tau, masaku adalah berfokus untuk memilih. Tentu yang baik untuk hidupku dan hidupnya kelak”

Jegler!
Lagi-lagi aku hanya berhenti pada menebak.
Terlalu takut bertanya agar terlihat sedikit lebih jelas, lebih pasti.

Ohiya, sebelum sebuah nama ini aku ceritakan panjang lebar, perkenalkan.
Namaku Senja.
Barangkali mulai hari ini, kalian akan sering bertemu dengan aku.
Senja, yang walau hanya singkat akan selalu kembali dengan keindahan yang sama.

 

Jogjakarta,
CatatanSenjaUntukSebuahNama

Advertisements