Saya pernah menulis surat untuk seorang Mama, dalam rangka jatuh cinta.
Jatuh cinta terlugu dan terjujur yang pernah saya rasa. HAHAHAHAHA.
Lain cerita, hari ini saya akan menuliskan cerita tentang seorang Ibuk.
Ibuk yang kalau saya nulis harus pakai “K” dibelakangnya.
Ibuk terbaik dari semua ibu-ibu terbaik.

Ini tentang sebuah perayaan sederhana di usia ke-52 tahunnya.
Tentang beribu rasa syukur yang jelas tak sanggup saya ungkapkan.
Tentang sekelumit kalimat sederhana.

Selamat ulang tahun, Ibuk

PicsArt_04-14-08.13.11.jpg
Selamat Ulang Tahun IbukMamaUti

Saat saya menulis ini, saya sedang di kantor dalam rangka lembur.
Ah, harusnya kan saya libur di rumah dengan tidak minggat kemana-mana.
Hal sesederhana itu pasti sudah istimewa di mata Ibuk.
Iya gak Buk? Soalnya saya hobi banget minggat. Hahahaha.

Jujur, bingung rasanya harus merangkai darimana kata.
Sebab tentang Ibuk tak pernah ada awal dan akhir.
Duh, sederet kata-kata romantis yang ada di kepala pun tetap tak terketik.
Buyar!

Hmm, mungkin saya harus memulainya dari sini.
Maaf.
Maaf ya Buk, hingga di usia yang ke-52 ini saya masih suka memberikan kejutan, kejutan yang menyakitkan.
Saya tau benar, hati Ibuk jauh lebih sakit dibanding saya.
Tapi, ah sudahlah, lupakan!
Percayalah, yang terbaik akan segera datang.

Maaf (2).
Hingga di usia Ibuk yang ke-52, saya belum memenuhi harapan-harapan Ibuk kepada saya.
Karena saya yakin, diantara dua yang lain, saya adalah satu-satunya harapan terakhir.
Saya sadar, seharusnya saya sudah jauh berlari.
Tapi nyatanya, saya masih saja disini.
Doakan saja ya Buk, semoga setiap jengkal perjalanan yang saya tempuh mampu membanggakan Ibuk (dan juga Babe di surga).

Ah, sampai disini saya mulai mimblik-mimblik.
Sesak sendiri jika harus membahas tentang maaf.
Lautan pun rasanya tak akan cukup menampung maaf demi maaf yang terlontar.
Sebab diantara dua yang lain, saya yakin yang paling sering buat Ibuk senam jantung.
Ya kan?
Semoga saja di usia Ibuk yang ke-52 ini saya tak lagi seperti itu.
AMIN.

Lalu, terimaksih, yang sebenarnya sama saja.
Lautan, bahkan langit tak akan cukup untuk menuliskan rasa terimakasih saya kepada Ibuk.
Yang pasti, terimakasih telah menjadi kuat selama dua tahun terakhir.
Kepergian babe yang sangat tiba-tiba tentu tidak mudah bagi Ibuk, bagi kami semua.
Sekali lagi terimakasih, telah menguatkan kami dengan Ibuk tetap menjadi kuat.

Sampai di paragraf ini, setes dua tetes air mata saya sudah jatuh.
Bahkan jari pun mulai kelu untuk tuliskan kata.
Saya tidak tau lagi bagian mana yang harus aku terjemahkan ke dalam kata terimakasih.
Sebab, semuanya sudah terlihat jelas.
Saya sudah bisa menapakkan kaki sendiri di dunia ini, meski belum sempurna.
Setidaknya itu bukti bahwa Tangan Tuhan tidak akan bekerja bila Ibuk tak berucap do’a.

Ah, iya!
Terimakasih sudah legowo dan memberi ijin jika sutu saat saya harus berpindah kota atau ke tempat yang tak sedekat biasanya.
Tak perlu risau dengan pikiran-pikiran yang Ibuk buat sendiri.
Percayalah, saya tahu bahwa sejauh apapun saya pergi, tujuan terakhir saya adalah pulang.

Jadi Buk, saya mulai amburadul untuk melanjutkan kata-kata.
Maafkan jika misi saya untuk romantis dan menulis kata-kata manis gagal total, Hahahaha.
Intinya, selamat ulang tahun Ibuk.
Selamat menapaki usia ke-52.
Semoga yang terbaik selalu mendekat, selalu sehat dan bahagia dunia akhirat.

Sekali lagi, terimakasih untuk 23 tahun yang sungguh luar biasa ini 🙂

Loveyou,

Dd

Advertisements