Pesan ini akan sampai kepadamu, entah kapan.
Mungkin terlambat, mungkin terlalu cepat, dan semoga saja di waktu yang tepat.

Sejak kita mulai samar, malam berjalan begitu lambat.
Dan kata ini, meningtari kepalaku lamat-lamat.
Aku lupa menyadurnya darimana, tapi aku ingat pernah menuliskannya.

20160711_144028
11.7.16

Barangkali kehidupan tampaknya tidak bermakna bukan karena kosong, melainkan karena terlalu penuh.
Sedikit sekali ruang yang kosong. Terlalu banyak aktivitas, hal yang bernilai, dan orang-orang yang menarik.

Setidaknya, begitulah aku menerjemahkan kita.
Barangkali kita terlalu penuh, sedikit sekali ruang kosong.
Terlalu banyak kabar, terlalu sering bekelakar, terlalu membiasakan diri menghadapi segalanya hanya berdua.
Terlalu banyak kita di hari-hari lalu.
Dan sampailah kita di detik ini, saat aku dan kamu tampaknya tidak (lagi) bermakna.

Aku bingung sedang berada diantara penyesalan atau penerimaan.
Menyesal, sebab dulu tak memberi celah untuk jarak.
Tak sedikitpun memberikan ruang untuk kita bernafas.

Menerima, sebab jarak tak selalu jahat.
Barangkali diammu adalah cara menjeda ruang.
Mungkin kamu baik, membiasakan diriku tanpamu sebelum kamu benar-benar pergi.

Pesan ini akan sampai kepadamu, entah kapan.
Mungkin terlambat, mungkin terlalu cepat, dan semoga saja di waktu yang tepat.
Jika diammu sedang merencanakan perpisahan, TAK PERLU PAMIT.
Sebab pamit hanya akan menunda kepergian.
Setidaknya begitulah kita (dulu).
Terlalu pandai merencanakan perpisahan, sampai lupa bagaimana untuk melakukannya.

Lakukan apa yang kamu mau, aku mengikuti.
Sebab aku sudah selesai…
Dengan semua janjiku padamu.
Tentang menguatkan dan kembali temukan harga diri(mu).

Setidaknya, jika kamu ingin pergi, aku sudah selesai dengan semua janjiku padamu.
Meski tidak dengan hatiku.

Pesan ini akan sampai kepadamu, entah kapan.
Mungkin terlambat, mungkin terlalu cepat, dan semoga saja di waktu yang tepat.

 

MejaKantor, AntaraLelahDanKalah

Advertisements