Letting go is matter of sense, rather than thought.

Dalam sebuah tulisan, aku pernah membacanya.

Sebuah kata demi kata yang aku pahami berulang kali.

20160621_172111
Jembatan Salam, 26.6.16

Karena melepas semata perkara RASA, bukan NALAR.

Susah payah aku memahaminya hingga ku temukan maknanya.
Untuk sekarang dan selamanya, barangkali.

Screenshot_2016-08-01-21-56-01

Kali ini bukan sekedar melepas senja yang jelas akan selalu kembali.
Ada hal-hal yang harus aku lepas.
Bukan dengan nalar, tapi dengan hati.
Ada hal-hal yang harus aku lepas.
Untuk hari ini dan seterusnya, barangkali.

Pagi telah menyampaikan kabarmu padaku.
Bahwa kamu enggan untuk sekedar memberi kabar.
Ku simpulkan, kamu tak lagi mau aku mencampuri hidupmu.
Untuk pagi ini dan seterusnya, barangkali.

Dan ku pikir siang akan membawa cerita yang lebih baik tentangmu.
Tapi cerita itu palsu.
Kamu memilih membisu dalam beku.
Seperti tak perlu lagi mengisahkan harimu padaku.
Untuk siang ini dan seterusnya, barangkali.

Satu-satunya harapan adalah malam.
Ku harap ia akan mengantarkanmu kembali pulang.
Tapi lagi-lagi harap itu pupus.
Yang ku temui justru sekat-sekat yang semakin terlihat.
Semakin ku genggam, semakin kamu lepas.
Ku pikir, kamu hanya inginkan jarak.
Untuk malam ini dan seterusnya, barangkali.

 Aku harus mulai melatih rasa untuk melepas, barangkali.

 

DiSebuahSudut, KetikaKamuTakLagiSama

Advertisements