Terimakasih untuk yang telah datang dan mendoakan,
untuk yang menyemangati dan menguatkan.

13 Juni, Mgl-Yk.

Tahukah kamu? Aku akan bercerita sesuatu.
Tentang sebuah perjalanan panjang dan perjuangan.
Tentang memulai yang harus diselesaikan.
Tentang aku, dia, mereka, dan segala yang berada.

SKRIPSI

Ya, bagian yang paling ku nantikan dari merampungkan skripsi hanya dua:
menulis halaman persembahan dan,
menceritakan hari ini.

Hari dimana aku melaporkan dan mempertanggungjawabkan yang ku selesaikan.
Hari dimana yang ada karena ratusan kisah sebelumnya menghantarkannya.
Hari dimana mereka dan dia selalu ada.

Di penghujung tahun lalu.
Di perjalanan menuju Yogyakarta.
Di tengah perbincangan renyah tentang apa saja.
Di detik yang tiba-tiba mimik mukanya menjadi serius.

“Kapan skripsimu diselesaikan?”
“Hm, kenapa tiba-tiba nanyain skripsi to?”
“Inget ngga kemarin, apa pesanmu kakakmu ke aku?”
“………”
“Mau janji gak buatku?”
“Iya iya, awal taun deh aku kerjain.”
“Selesainya?”
“Semester ini deh, kelar. Janji!” suaraku sedikit meragu.
“Ya semester ini tu kapan selesainya?”, dia semangat, merasa apa yang harus ditangungjawabi menemukan jalannya.
“Juni. Iya, semua akan selesai di bulan Juni!”

Dia menoleh, menatapku dengan senyumnya yang sungguh-sungguh lebar.
Beuh,sombong dia merasa memenangkan percakapan ini!

“Heh, kamu juga harus janji!”
“Apa?”
“Tetap di sini sampai apa yang kamu minta selesai ku kerjakan!”
“Kamu pikir, aku di sini hanya untuk singgah, hah?”
“Jelas! Apalah pertemuan kita ini, kita hanya dua hati yang lelah dan dilelahkan, bukan?”
“………”
“Kamu pun tau, harusnya aku sudah mengerjakannya sejak pulang dari KKN. Tapi, dia pergi, dan aku limbung.”
“Mana sih dia? Ada di HP? Kenapa pula tanpanya kamu gak bisa?”
“Bukan gak bisa. Tapi, hati yang ditinggalkan butuh ditemani lagi, bukan? Hahaha!”
“Iyuh, tampang garang kok lemah!”
“Luweh. Gimana janjinya?”
“Heh, denger! Ku temani kamu sampai selesai, sampai kapanpun kamu mau. Kecuali kamu suruh aku pergi. Aku akan. Janji!”

Percakapan tentang skripsi, ditemani, dan menemani itu pun telah disepakati bersama.
Di penghujung tahun lalu, ditengah macetnya Yogyakarta.

Januari menyapa, dan aku memulainya.
Entah kekuatan apa yang aku punya hingga menjadi segitunya.
Yang aku miliki hanyalah janji Juni.

Dan aku membuatnya menjadi nyata, aku menepatinya!
Begitupun dia, masih tetap tinggal.
Kita tidak saling pergi.

Dan hari ini pun tiba.
Terimakasih untuk semua, keluarga, saudara, teman, dan siapapun yang terlibat dalam hidupku.
Bagian ini akan ku tulis lebih panjang dan lebar di halaman persembahan skripsi.

PicsArt_06-14-10.33.30
TERIMAKASIH SEMUA!!!

 

 

Tahukah kalian?
Ku rasa kalian harus tau!
Dia yang aku ceritakan  adalah seseorang yang duduk di pojokan gedung hari ini.
Dia, yang ada bersama barang-barangku di kursi itu.
Dia, yang sempat melihat kita dari jauh saat kita berfoto-foto.
Dia, yang sungkan dan enggan menghadapi kalian.
Dia, yang tertidur karena kelelahan sembari menunggu setengah dua.
Dia, yang tiba-tiba menghilang seminggu sebelum hari ini tiba dan mengacaukan aku.
Dia, yang tetap menepati janji, mengabarkan bahwa dia akan bersamaku mengahadapi hari ini.
Dia, yang ku sengajakan tidak berfoto denganku di hari ini.
Dia, yang dilain waktu akan ku ceritakan lagi.

14 Juni, Mgl-Bd.

 

Hai Tebu, pesanmu telah sampai padaku pagi ini.
Terimakasih telah menemaniku sejauh ini.
Aku akan merindukan, wajah datarmu sebab menungguiku bimbingan berjam-jalm lamanya.
Akan menertawkan pesan-pesan rempongmu ketika aku sendirian, “habis bimbingan mau ngapain? balik gak? kenapa gak balik aja sih? kapan balik magelang to?”
Dan segalanya yang hanya milik aku dan kamu, tak perlu ku bagi dengan mereka.
Thanks for being my best supproter ya!

20160513_135009

Iya, aku akan baik-baik saja di sini.
Semoga kamu juga baik-baik di sana.
Jaga jantungmu.

 

PS: Untuk bapak di surga.

Semoga bapak masih ingat perbincangan kita dulu.
“Kamu udah semester berapa? Wah, berarti tinggal setaun lagi ya. Dian lulus, Bapak pensiun.”
Aku tau, itu pernyataan yang setengah menyindir, Pak. Hahahaha, tapi gapapa, itu bikin semangat!
Dan, tentu Bapak menyertaiku di hari kemarin.
Aku lulus sebulan sebelum Bapak pensiun (meski cuma jarak sebulan sih).
Harusnya kita gantian ya, Pak. Bapak istirahat, aku yang kerja bahagia.
Tapi tak apalah, Bapak sudah sampai di peristirahatan yang terbaik.
Idoreallyreallymissyou.

Advertisements