“Kenapa hujan turun?”

Karena ada kita, kita ada.”

IMG-20160306-WA0000

Maka, sejak saat itu hujan menjadi sebuah kesepakatan.
Tentang Pertemuan, Pekenalan, Perjalanan, Perlawanan, Petrahanan, dan (Perpisahan) pada ujungnya.
Tak peduli bagaimana situasi dan kondisinya, hujan selalu mengada ketika kita ada.
Jadilah, setiap rintiknya selalu nikmat untuk dirasakan dan kemudian dikenang.
Dan di hari-hari berikutnya, keberadaan hujan disusul sebuah pesan singkat yang hanya darinya.

“Tentang Hujan dan Kita…”

Hujan, bagiku sungguh menyenangkan, meskipun tidak bagi Lail.
Siapa Lail?
Ia yang tunduk pada kesabaran.
Ia yang tidak kehilangan percaya akan kekuatan cinta.
Ia yang dewasa karena luka-luka.
Ia yang pada akhirnya melewati esok-esoknya bersama Esok.

Siapa Esok?
Sungguh, aku tidak akan menceritakan tentang siapa mereka.
Karena kamu lebih dulu mengenalnya dibanding aku.
Justru, kamulah yang memperkenalkanku pada mereka.
Ingat kan?

Hai, menyenangkan rasanya membaca cerita Hujan.
Pikirku melayang-layang ditengah kemajuan teknologi. Rasa-rasanya aku menjadi salah satu tokoh di film divergent. Seru! Meski pada akhirnya, semua kembali pada sebuah sosok penting yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Barangkali, memang si penulis mendesain yang sedemikian rupa. Cerita bergenre scinece dan drama.

Kamu tentu tau kan siapa sosok penting itu? Sesosok yang haikikatnya akan tetap dan selalu begitu. Sederhana dicuapkan, tapi begitu rumit dirasakan.

CINTA.
C I N T A.
Mudah bukan diucapkan?

Ya, kenapa ku sebut ia sosok? Sebab ia bukan sekedar kata benda. Bukan pula sebuah kata kerja. Lebih dari itu, dia melibatkan, setidaknya dua nyawa. Ada sosok di dalam cinta. Ada cinta di dalam sosok.

Ah, kenapa pula aku semakin ngelantur begini ya? Barangkali pikiranku sedang macet karena terusik oleh tulisan-tulisan dosenku yang sedang menyusun disertasi tentang CINTA. Dan kamu tau? Sepertinya beliau mumet. Ya, bukan cinta kalau gak bikin mumet, katanya! Tuh kan, ditelusuri secara ilmiah saja masih belum terpecahkan misterinya. Ah, cinta!

Akan ku beritahu kamu bagian-bagian yang paling aku suka.

Bahwa, cinta itu kuat dasyat ya? Bagaimana tidak? Sehebat apaun kesibukan Lail, diujung harinya dia selalu teringat Esok. Benar saja, semakin kita meniadakannya, cinta akan tetap mengada.

Eh, tapi kan itu ditengah kemajuan teknologi dunia? Bisa saja kan Lail dan Esok saling menghubungi dan tetap terhubung – tak peduli sesibuk apapun mereka? BISA, BISA BANGET MALAH! Masalahnya, ini kan ceritanya si penulis, yang ciri khasnya adalah CINTA ITU BUKAN UNTUK DIUMBAR-UMBAR, KECUALI SUDAH SIAP. Artinya? Cinta itu dinyatakan dengan waqobiltunikahaha (CMIIW). Ya kan? Coba kek, tulis tentang cinta dalam versi yang lain. Hihihi.

Lalu, tentang tersipu malu, rindu, cemburu…
Ada apa dengan mereka?
Ya, terima sajalah.
TERIMA SAJA.
Begitulah sejatinya, ketika cinta mengada kau hanya perlu menerima tanpa meminta.
Kalaupun harus meminta, cobalah bersujud.
Cinta adalah KuasaNya.

PS: Hai, sudah ku lunasi hutangku ya. Aku tahu kamu pasti tersenyum kecut membaca ini. Anggap saja, aku sedang acak-adut. Tengah menyelesaikan bab empat yang sungguh bikin penat! Semoga kamu selalu baik.

Kantinpascasarjanaekonomi,ketikahilangarah,penghujungApril2016.

Advertisements