Selamat sore Ma,salam kenal.
Saya seseorang yang, ah, sebenarnya cukup sulit menemukan kata yang “tepat” untuk mengatakan siapa saya kepada Mama.
Satu yang pasti, ditengah perjalanan, saya bertemu dengan anak laki-laki Mama.
Saya dan dia lalu menikmati perjalanan bersama.
Saya menulis ini bukan untuk memperkenalkan diri atau dikenali.
Tidak Ma, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal tentang anak laki-laki Mama.

IMG-20160218-WA0008

Boleh ku panggil dia “dia(ku)” ya, Ma?

Saya mengenal dia(ku) belum terlalu lama, Ma.
Masih di satu musim, ketika mendung mulai gemar menggelayut dan hujan lebih sering menjadi saksi bagi kami.
Tidak banyak persamaan yang kami punya Ma, bisa dihitung jari.
Yang pasti, saya dan dia yang sama-sama anak bontot.
Belum lama memang saya mengenal dia(ku), Ma, tapi saya merasa bersyukur dan sangat berterimakasih atas banyak hal.

Terimakasih telah mendidik dia dengan prinsip, sehingga dia selalu tahu kemana akan melangkah.
Terimakasih telah mengajarkan dia etika, dengan begitu dia tahu bagaimana harus bersikap terhadap siapapun (termasuk di depan keluarga saya).
Terimakasih telah menghujaninya dengan cinta, karenanya dia paham bagaimana cara mencintai wanita dengan segala kelembutan dibalik kerasnya dia (saya paham betul, meski hanya dari cerita-cerita dia sih, Ma :p).
Terima kasih untuk selalu merindukan dia dan menjadikan dia satu satunya tempat berkeluh kesah, sehingga dia paham bahwa saya juga membutuhkan dia untuk hal yang sama. Dengannya, saya ingin menceritakan setiap detik hidup saya kepadanya, Ma.
Terimakasih telah mengajarinya arti bahagia, dengan begitu dia selalu memancarkan kebahagiaan bagi saya.
Terimakasih telah memberinya kepercayaan untuk hidup bebas, karenanya bersama dia saya selalu merasa aman (dan nyaman).
Terima kasih telah memanjakannya, sehingg dia paham bagaimana harus menyayangi wanita. Saya paham betul bagaimana ia selalu mau mengalah pada wanita. (Ya, meski itu tidak selalu terjadi pada saya, sih Ma :p)
Terimakasih telah membiasakan dia menjadi apa adanya, dengan begitu dia tidak pernah berpura-pura pada saya. (Ya, meski seringkali bohong sih, Ma :p)
Terima kasih telah menghargai “jalan hidup” yang dia pilih, karenanya dia bisa menghargai dirinya sendiri. Termasuk segala sesuatu yang saya pilih.

Terima kasih telah menjadi sosok hebat untuknya, telah menjadikannya sosok yang meski tak sempurna, tapi membuat saya merasa cukup (pernah) mengenalnya.
Kalau kata lagu favorit kami, dia(ku) “bangkitkan jiwa” Ma.

Maka, maafkan saya Ma.
Maafkan bila dalam beberapa hal, saya justru mengacaukan hal-hal baik yang Mama ajarkan pada dia.
Maafkan jika saya menjadikannya tak sebaik yang Mama pinta.

Hal itu memacu saya untuk terus belajar:
Untuk menjadi sabar,
Untuk menjadi dewasa,
dan pasti….
Untuk menjadi berani (melepaskan).

Salam kenal dari saya, Ma.
Perempuan yang mengenal Mama hanya dari jauh.
Beberapa kali dia pernah menceritakan Mama kepada saya.
Juga ketika dia bersama saya, Mama tidak pernah absen menelponnya.
Lalu Mama dan dia berbincang lama sekali, sementara di sisinya saya hanya diam sesekali menyimak.

Semoga Mama dan juga dia(ku) selalu sehat di sana.

NB: Jujur saya bingung mau manggil Mama dengan sebutan apa. Rasa-rasanya saya lancang kalau memanggil Mama “tante” :p

 

 

Advertisements