Seringkali aku mendengar hingar bingar orang tentang pilihan.
Kata mereka, ada dua kemungkinan di hidup ini,  memilih dan dipilih.
 Dengan gaya sok-sok an ala-ala manusia, mereka berteriak, “Hidup itu pilihan men! Kalau gak memilih, ya dipilih!”
“Halah, ha mbok Preeetttt! Tau apa soal mereka pilih memilih!” Padahal aku juga nggak tau-tau amat sih. 🙂
Ya, apa yang dielu-elukan itu, aku tidak menyalahkan, tapi tidak juga membenarkan.

Sebab bagiku, jalan hidup tak selalu bisa DIPAKSA. Diubah-ubah memang bisa, dinekatin juga masih mungkin. Tapi untuk dipaksakan? Mau nantangin Tuhan? Biarkan tangan Tuhan yang bekerja!

Ini hidup, tak melulu tentang memilih  dan dipilih. Pada akhirnya, jalan cerita (dan orang-orang yang kau temui di dalamnya) akan membawa ke satu titik, PENERIMAAN. Lebih dari sekedar kata benda, ia adalah kata kerja. Kau HARUS BEKERJA untuk itu, MENERIMA.

Dan tahukah kau? Bagian tersulit dari manusia untuk diajak menerima adalah hati. Kau tau dimana itu hati? Bukan, bukan hati  yang terletak dalam rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma.  Tapi, hati yang biasa kau pakai untuk merasakan. Gak perlu aku jelaskan kan? Toh kau-kau semua pasti pernah berkali-kali bilang, “Aku tengah jatuh hati.. Oh, indahnya…!”

Indah? Apa? Indah? Coba di KROSCEK sekali lagi! Kalau masih bilang Indah, coba di KROSCEK lagi!

Seperti yang aku bilang tadi, hidup tidak melulu soal memilih dan dipilih. Begitu pula HATI. Sebab, hati tak perlu memilih atau dipilih. Ia selalu tau kemana harus berlabuh.  Kau tau cerita Keenan dan Kugy dalam Perahu Kertas kan? Seperti itulah yang ku maksud. Tapi, jika Keenan dan Kugy terlalu fiksi, coba tanyakan pada manusia yang nyata.

Tanyakan pada ayah-ibumu, apakah mereka memilih?
Tanyakan pada kakek-nenekmu, apakah mereka dipilih?
Tanyakan pada oom-tantemu, apakah mereka memilih dan dipilih?
Kalau kau sempat, coba analisis. Mana yang lebih masuk akal? Soal memilih-dipilih atau menerima?

Tanyakan pada dirimu sendiri, suatu saat nanti, haruskah hati memilih dan atau  dipilih? Atau justru harus menerima?

K.I.T.A

IMG_2006

Semua ujarmu  adalah benar. Nalarku menerima. Egoku mulai melentur, menerima. Hatiku? Semua sudah terbaca jelas kan?

Lupakan soal aku bisa memilih dan kau telah dipilih.

Aku hanya ingin belajar menerima, menerima kita.

Sebab hati memiliki logika yang tak bisa dipahami oleh nalar. Sederhananya begini.

Kamu bisa saja berencana akan menikahi siapa nanti. Tapi, kau tak pernah bisa berencana kepada siapa kamu akan jatuh hati.

Ujung-ujungnya? Ya menerima. Paham kan? Semoga 🙂

Advertisements