Aku tidak bermaksud untuk menganggu, apalagi memperburuk suasanamu. Aku hanya ingin menepati sebuah janji. Sebab dalam sebuah catatan lawas berjudul Prolog: Tentang Sebuah Perjalananaku pernah berujar untuk menceritakan seseorang. 

Tentunya aku tidak sendirian untuk mencapi jarak ini. Aku bukan tipe orang yang betah melakukan perjalan sendirian, hehehe.. Akan ku beritahu kalian bahwa ada seseorang yang menemaniku sampai akhirnya aku menulis (lagi). Sebut saja Dia- yang selalu aku repotkan, tapi tetap mendampingi. Dia yang ujarnya menjadi bom dan meledakkanku untuk menulis (lagi). Tunggu saja, nanti, suatu hari, tentangnya akan muncul di jurnal hidupku ini.

Begitu ujarku dalam catatan lawasku. Ku pikir, waktu itu telah tiba. Ijinkan setiap jengkal rasa menempuh jalannya. Biarkan setiap keping kisah menemukan keutuhannya. Kan ku sebut seseorang itu kamu.

IMG_8010
Dokumentasi Pribadi

Seharusnya, tulisan tentangmu sudah ada jauh lebih awal dari malam ini. Tapi ternyata tak semudah itu. Aku selalu kehabisan akal, kehilangan kata untuk merangkaimu ke dalam bait demi bait. Tak ada diksi yang tepat untuk menceritakanmu. Bagiku, kamu adalah satu-satunya yang tak tergantikan oleh kata. Sesederhana itu alasanku tak pernah menuliskanmu dari dulu.

Hai, kamu. Aku tidak akan mengajakmu menghitung berapa ratus ribu detik yang sudah kita hadapi bersama. Tidak pula memintamu menyebut berpuluh-puluh perjalanan yang sempat kita nikmati hanya berdua. Tidak pula membuatmu mengingat setiap baik dan buruk tentang kita yang telah menjelma menjadi aku dan kamu. Aku hanya ingin menyampaikan yang tak terucap saat kita tiada jarak. Ini bukan sekedar penjelasan, tapi sebuah pengakuan.

Terimakasih telah menjadi partner yang baik. Bersamamu aku belajar banyak hal. Tentang persahabatan, tentang kesederhanaan, tentang memperjuangkan keyakinan, tentang menjadi dewasa, tentang mencintai, tentang dicintai, dan tentang-tentang yang tak mungkin ku sebutkan satu persatu. Kamu adalah satu hal yang menghadirkan banyak hal baru di hidupku. Sebab kita adalah perahu kertas. Radar kita selalu bertemu di satu titik yang sama, radar neptunus. Melaju bersamamu dibawah bintang-gemintang dan lautan lepas adalah hal yang kuingini menjadi selamanya.

Hai, kamu. Maaf untuk segala keras dan egoku. Maaf untuk setiap tuntutan dan desakan. Maaf untuk luka dan kecewa. Sampai detik ini aku masih menyimpan tanda tanya. Bagaimana bisa kamu tetap beridiri di sana? Sabarmu selalu ada. Maafmu tak pernah habis. Meskipun pada akhirnya semua itu sirna.

Kalau kamu ingin tahu, detik ini aku sedang tersenyum. Kepingan memoar tiba-tiba saja melintas dibenakku. Di suatu waktu kamu pernah berucap, “wah, dadi kelingan jaman ra enak”. Ucapmu menyadarkanku bahwa kita bersama tak hanya melewati satu masa.  Kamu dan aku pernah berputar dalam satu roda. Menemanimu di titik terbawah hingga merangkak bersama mencapai puncak.

Duh, kepingan memoar itu semakin menggoda. Nakal dan lincah sekali memaksaku untuk menceritakan tentang kita. Tidak, aku tidak akan menceritakannya. Sebab aku tahu itu akan menganggumu. Barangkali, segala kisah yang kusebut indah tidak sedemikian rupa bagimu. 

IMG_6272
🙂

Hai, kamu. Jika memang benar tulisanku menganggumu, kamu tak perlu mengatakannya padaku terang-terangan. Sebab semua sudah terbaca dari pesan-pesan yang kamu kirimkan. Pesan-pesan panjang yang menjadi singkat. Pesan-pesan yang sarat penolakan dan penghindaran. Bagiku, semua itu tak perlu. Sebab tentang kita berawal dari sebuah pertemanan. Aku hanya inginkan akhir yang kembali ke awal. Seperti kita dalam cerita ini.

Hai, kamu yang semakin dewasa. Ku dengar satu persatu teman-temanmu mulai melepaskan masa lajangnya ya? Ku panjatkan segala yang terbaik agar Tuhan mendengar inginmu untuk seperti mereka. Amin.

Advertisements