Sebuah pepatah mengatakan,

merantaulah, maka kau akan tau alasan mengapa harus pulang.

Tapi perjalanan ini telah membawaku pada sudut pandang yang lain.
Ku tarik sebuah simpul yang terikat dalam sebuah kata,

pergilah sejauh mungkin selama yang engkau bisa, maka kau akan tahu,  sebaik-baiknya tempat berlabuh adalah rumah.

pesawat
Sejauh apapun kamu melangkah, tujuan terakhirmu adalah pulang 🙂

Akhirnya malam ini bisa menuliskan kembali jurnal perjalanan hidupku. Kangen sekali rasanya setelah 9 minggu lamanya jurnalku tak bernyawa. Jika diibaratkan sebuah ruang, ku pastikan jurnal ini berupa lusuh. Langit-langitnya tertutup lamat-lamat hitam, dindingnya dipenuhi sarang laba-laba, dan lantainya sesak oleh debu-debu yang menebal.

P.U.L.A.N.G akan mengantarkanku untuk membersihkan segalanya yang mulai usang.

Hari ini sudah memasuki hari ke-5 semenjak kepulanganku di tanggal 2 September lalu. Ada segumpal rasa yang sulit aku pahami kala itu. Sebab kepulangan bersinonim dengan kepergian. Pun kepergian menghantarkanku pada kepulangan. Ah, ada sebentuk bahagia yang bersanding dengan kesedihan. Ada sekeping kerinduan yang menyatu dengan kegelisahan.

Adalah perjalanan ke timur negeri yang membawaku berkelana ke sudut-sudut paling rahasia.
Adalah tanah ketiga (setelah rumah dan Jogja) yang telah berhasil menaruh hatiku padanya.
Adalah pertemuan-pertemuan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh logika.
Adalah KOLO, sebuah perjalanan dan juga sekeping kenangan.
Adalah KOLO, satu kata singkat yang menjadi panjang.

IMG_20150831_061715_1441560434154
Dokumetasi pribadi

Aku tidak akan menceritakannya sekaligus dalam satu malam. Sebab bagiku, kenangan ibarat secangkir kopi. Butuh waktu yang lebih lama untuk menikmatinya. Kamu perlu hirup dahulu aromanya, sembari matamu terpejam, aroma itu akan menyeruak masuk melalui hidung. Kemudian memenuhi rongga paru-paru, hingga menyentuh setiap sel-sel tubuhmu. Pun kamu tak mungkin menghabiskan secangkir kopi dalam sekali teguk. Sebab bersama secangkir kopi, kamu bisa melakukan banyak hal. Jika Dewi Lestrai pernah mengatakan bahwa setiap hati punya rahasia, maka ku pastikan bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk menikmati kopi.

Begitu pula denganku. Aku akan menceritakan segala tentang Kolo secara perlahan. Sebab ia telah menjadi kenangan yang tak bisa kunikmati dengan tergesa-gesa. Pun aku tak akan menceritakannya secara runtut, aku akan memulainya dengan bagian yang paling aku rindui. Barangkali, esok aku merindui kepingan-kepingan yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Kemudian lusa, aku merindui kepingan-kepingan yang membuatku menangis sendu. Entahlah, sebab Kolo adalah perjalanan. Ia memiliki bermacam bentuk dan rasa. Kamu hnya perlu membaca setiap ceritaku dan menikmatinya dengan cara terbaikmu.

Namun pada akhirnya, betapapun panjangnya perjalanan yang aku tempuh,
betapapun lamanya perjalanan yang aku lalui,
betapapun banyaknya kisah yang aku dapat,
betapapun tulusnya cinta yang aku rasa,
pada akhirnya Kolo menyadarkanku pada satu hal.

IMG_20150406_051943
Pemandangan di belakang rumah menjelang maghrib

P.U.L.A.N.G,
bahwa sebaik-baiknya tempat berlabuh adalah rumah 🙂

Advertisements