Pada sebuah senja. Mentari sudah tak lagi tampak. Namun semburat jingganya masih terihat jelas. Mewarnai langit menciptakan sejuta pesona. Beradu dengan laut melukis indah surga dunia. Dan diantara debur ombak, terdengar samar dua manusia yang baru saja mulai percakapan.

IMG_6439
Location: Pantai Kesirat, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta

“Ya, seringkali aku tidak percaya atas cerita yang kau kirimkan lewat pesan-pesan singkatmu itu. Mana mungkin orang sebaik-hati kamu begitu tersakiti? Jujur, mataku saja mampu merasakan betapa lembut jiwamu.”

“Ah, perempuan, memang ya selalu bisa menciptakan perasaan yang sedemikian patah menjadi utuh kembali.”

Bukan begitu. Kamu tahu, sejauh ini kamu adalah satu-satunya manusia yang tak pernah abai mengucapkan maaf, tolong, dan terimakasih. Bahkan darimu aku belajar banyak hal.”

“Ah, kamu juga seperti itu. Suka sekali bilang makasih.”

Dan kamu lebih dari itu. Ketika aku salah sekalipun, kamu masih mampu menasehatiku diawali dengan kata tolong. tolong ya, jangan seperti itu lagi. Aku tidak menemukan itu pada yang lain.”

Dan kamu selalu mengucapkan terimakasih ketika aku mengingatkanmu akan sesuatu. Sebelum kamu pulang, aku tak pernah absen untuk mengingatkanmu hati-hati di jalan ya. Ketika yang lain selalu menjawab oke, ya, sip, justru kamu menjawab dengan iya, makasih ya.

“Apakah itu cukup untuk dijadikan dasar kelembutan hatiku? Seperti yang kamu katakan tadi.”

“Belum lagi ketika aku selalu bawel dan protes. Kamu selalu menjawabnya dengan duh, maaf. Padahal bisa saja kamu balik memprotesku karena memang aku yang salah.”

“Ah, bagaimana jika aku seperti itu hanya karena menghadapi kamu? Apakah masih pantas untuk kau sebut berjiwa lembut?”

“Aku tahu kamu mengucapkan semua itu tidak dengan sungguh-sungguh. Laki-laki sepertimu akan tetap baik pada semuanya, siapa saja. Lihat saja, berapa banyak perempuan yang kamu buat nyaman dalam genggaman pesonamu?

“Hahaha. Bukan begitu! Aku tidak seburuk yang kamu kira, sungguh!”

Aku bahkan tidak pernah sedikitpun berpikir kamu buruk. Aku melihatmu dari sisi-sisi terkecilmu. Every single thing you do, termasuk maaf, tolong, dan terimakasih. Darinya aku percaya kamu laki-laki baik.”

“Sini, mendekatlah sedikit. Angin semakin kencang. Pakailah jaket ini agar kita bisa berbincang lebih lama, menikmati malam-malam panjang ditengah deru ombak, yang mungkin esok tak lagi milik kita. Dan kamu, bisakah berhenti sejenak berbicara tentangku? Biarkan kini aku yang berbicara tentangmu, berbicara tentang kerinduanku padamu, biarkan bibir ini berbicara dalam senyap, melepas segala batas-batas yang kini semakin pudar.”

TAMAT

Advertisements