Masih ingat cerita dalam segenggam-kopi-kotak-dingin? Masih sanggup menikmati bagaimana seorang Gatre dan Dek menjalin kisah aneh yang hanya dipahami keduanya? Juni, menjadi saksi bisu diantara keduanya. Juni yang mengingkari.

IMG_20150312_230746

“Sepanjang penghujung Maret lalu kotaku mulai sumringah. Matahari perlahan menggantikan mendung-mendung yang rajin menggelantung. Tapi itu tidak lagi terjadi di awal Juni. Tiba-tiba saja langit kemayu digelayuti mendung. Hingga ku cium lagi bau tanah basah di awal Juni.”

“Ya, seperti kamu. Yang di kala senja selalu menyapa. Menggebu-gebu mengajakku berbincang tentang apa saja. Tapi, kemudian itu tidak lagi terjadi di awal Juni. Tiba-tiba saja tak kudapati lagi sapamu di kala senja. Hingga malam telah benar-benar datang, sapamu belum terlihat jua.”

Duh, maaf Dek. Belakangan ini hidupku serba terburu-buru. Bahkan, senja pun tak sempat kunikmati lagi. Aku pun tak sempat menduga bahwa Juni telah tiba.”

Sesesak itukah hidupmu untuk sekedar menypa awal Juni? Hei, ini Juni. Tidak ingatkah bahwa sesuatu akan terjadi – akan kita ciptakan bersama-sama? Tentang kedatanganmu, tentang menikmati secangkir teh dan secangkir kopi berdua?”

Tentang kerinduan yang telah sekian lama diam di pojok-pojok relung hati, tentang cerita Gatre yang selalu kamu ingin dengar lagi dan lagi, tentang, semua tentangku dan kamu, Dek. Hidupku selalu penuh sesak, kecuali semenjak kamu kembali setelah hilang dari jangkauanku.”

Oya? Lalu kenapa sekedar menyapaku di kala senja pun tak lagi kau lakukan? Dan tak ada lagi segenggam-kopi-kotak-dingin yang kau nikmati hanya sekedar untuk mengulur waktu kita berdua. Gatre.. Gatre..”

Bukan begitu, aku sudah bilang kan hidupku sedang serba terburu-buru? Haruskah aku ceritakan di sini? Apa yang akan mereka bilang jika tahu semua ini? Cukup hanya aku dan kamu aja Dek.

“Dan lebih baik aku bilang sekarang. Mumpung Juni belum terlewat jauh sekali. Sepertinya, aku tidak bisa datang di bulan Juni. Aku pastikan kamu tahu kenapa.”

“Hahahaha, sudah kuduga. Iya deh.”

“Iya gimana maksudnya?”

IYA. GAPAPA KALAU MEMANG GAK BISA DATANG BULAN INI.”

“Makasih ya, akhirnya kamu mengerti. Tapi aku janji… Pasti ke sana…”

You know that, i’ll always understand you, always! Oh iya, satu lagi, jangan pernah memberiku janji, sekalipun aku memintanya Gat.

“Emang aku pernah, memberimu apapun setelah kamu memintanya? You know that, i always know what you want. Memang kenapa? Setidaknya, kamu berharap kan aku mengucapkannya? Kamu ingin kan aku berkata aku janji, pasti ke sana?”

NO! Sudahlah, tak perlu menunggu malam terlalu larut. Janji-janji Juni telah usai. Juni mengingkari, lebih tepatnya kamu, Gat.”

“Biarlah, yang penting cerita kita tak kan pernah selesai. AKU JANJI AKU DATANG, MESKI TIDAK DI BULAN JUNI”

20150602165339

Advertisements