“Hei di sana, aku kangen kamu.”
“Hanya sebatas kangen? Aku melebihimu, aku rindu kamu.”


“Lho, emang apa beda kangen sama rindu?”
“Ya beda donk. Kangen itu cuma sebatas perasaan.”
“Memanya rindu melebihi sebuah perasaan?”
“Pastinya. Rindu itu satu kesatuan dari perasaan dan ingin memiliki. Kalau aku bilang, aku rindu kamu, rindu menatap dalam bola matamu, rindu memeluk erat ragamu, rindu mencumb….”
“Hih, dasar mesum!”

“Hei, coba rasakan. Bukankah lebih menyentuh hati ketika aku mengatakan aku rindu kamu? Bandingkan denganmu yang hanya bilang aku kangen kamu.”
“Ah, enggak. Rindu itu ndeso. Gak enak didenger telinga. Dewa 19 aja bikin lagu judulnya KANGEN, bukan RINDU.”
“Rindu itu bagus kali. Maknanya dalem, gak kayak kangen. Dangkal. Banyak kan perempuan dinamai RINDU, bukan KANGEN?

“Ih dasar kamu, laki-laki mesum. Mengatasnamakan rindu demi…..”
“Ih, kamu juga. Perempuan gengsi yang gak mau ngakuin kalau punya perasaan yang sama kayak aku.”
“Enggak!”
“Oh, jadi aku tak perlu datang menemuimu di bulan ini?”

Entahlah, tulisan ini dibuat dengan teramat sangat random. Dengan hati yang sedang rindu rumah,  kangen suasana rumah. Maklum, badan lagi drop dan rasa-rasanya tak ada lagi tempat terbaik, selain rumah.

-5 Juni 2015-

image
Terimakasih telah menjadi saksi
Advertisements