Setelah melalui berbagai pertimbangan dan negoisasi (hasyah), akhirnya minggu ini Teman Penulis yang akan mengisi blogku adalah Nadia Rera Aulia. Temen kentelku sejak SMP hingga waktu yang tak terhingga, amin. Awalnya sih, ku duga dia bakal nulis fiksi. Soalnya, ya memang tulisan fiksi dia apik gitu. Eh, ternyata Nadia milih buat nulis soal hijab. Alasannya, baca aja sendiri pengakuan dia di paragraf berikutnya. 😀

IMG_3516
Talent: Dea Saeah Muslim

Well, setelah bingung mau nulis apaan akhirnya aku memutuskan buat sedikit ngebahas tentang hijab. Kenapa aku milih ngebahas tentang ini? Karena, kalo aku nulis sesuatu pasti jatohnya curhat. Hehe. Sebenernya apa yang bakal aku bahas mungkin juga ada curcolnya sih, at least curhatannya mungkin bakal bermanfaat kalik yaa... semoga hahaha. Sekalian lah yaa, share secuil pengetahuan yang aku punya soal berhijab. Kan ada ayat yang mengatakan sampaikanlah walau hanya satu ayat.. hehehe

Seperti yang kita tahu, arti dari hijab adalah penghalang. Artinya, ketika seorang perempuan berhijab, berarti dia mengenakan suatu penghalang untuk menutupi auratnya. Nah, aurat perempuan itu adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dan bagian yang sering terlupakan –yang sering aku lupakan- adalah kaki. Kaki juga merupakan aurat perempuan yang harus ditutup dengan kaus kaki. (Nah bagian kaki ini nih aku masih gak konsisten hehe. Buru-buru keluar kos, eh di perjalanan baru sadar kalo gak pake kaus kaki hehehe). Jangan ditiru!

Sebenarnya sekarang ini semangat perempuan untuk berhijab jauh lebih membara (halah) ya daripada beberapa tahun silam. Tapi buat yang belum berhijab gak perlu khawatir, tapi pikirkanlah hehehe. Sebenernya setiap orang punya alasan yang harus dihargai. Tapi terkadang banyak pertanyaan, semisal “kalo belum siap?”. Sebenernya bukan masalah siap atau gak siap sih. Misal kamu bilang kamu belum siap, apa selama kamu belum siap itu kamu berusaha untuk menjadi siap? Butuh waktu berapa lama untuk menjadi siap? Kenapa aku bisa ngomong gitu? Karena jujur, pertama kali aku memutuskan untuk berhijab bisa dibilang aku sama sekali gak siap.

Aku mau sedikit cerita awal aku berhijab. Singkat cerita, waktu SMA aku ikut organisasi Dewan Islam Sekolah (semacam rohis gitu) dalam posisi aku belum berhijab. Nah, ada satu kegiatan rutin di setiap hari Jumat yaitu kajian Jumat pagi yang diwajibkan bagi  siswa kelas X dan yang perempuan wajib berhijab meskipun sehari-harinya belum berhijab. Salah seorang temenku bilang “Nad, kalo kita nyuruh adik-adik kelas buat berhijab masak panitianya ada yang gak berhijab? Kan gak enak” (sebenernya ngomongnya lebih halus dan dengan kata-kata yang mengenakkan telinga sih, tapi gampangannya itu yang aku tangkep hehe). Alhasil, Jumat minggu depannya aku pakai seragam pramuka lengan panjang dan rok panjang plus kerudung coklat hehe (hasil pinjem tetangga yang udah lulus hehe). Nah begitu aku pakai itu temen-temen pada tanya “wah nadia udah berkerudung sekarang”, itu kalimat yang terlontar dari mereka tiap papasan sama aku, entah berapa banyak yang tanya. Ya gimana sih, tiap keluar kelas, ketemu orang, ya dibilanginnya gitu. Dan aku jawab sekenanya “enggak, cuma buat kajian Jumat aja kok”.

See? Aku bilang “enggak” bukan “belum”. Karena waktu itu emang belum ada pikiran buat ke sana. Besoknya, hari Sabtu, ada event yaitu tausyiah memperingati isra’ mi’raj yang wajib buat semua siswa. Di situ panitia juga diwajibkan berhijab. Nah tiap ketemu orang yang kemarin Jumat aku ketemu juga mereka bilang “Nad! Katanya Jumat doang? Nah berarti udah berhijab kan?” (intinya bilangnya gitulah). Gak tau kenapa di situ aku ngrasa malu kalo harus lepas kerudung di hari Senin dan gak tau harus jawab apa kalo ada pertanyaan muncul. Akhirnya aku minta ibukku buat beliin seragam lengan panjang. Dan mulai hari senin aku berhijab. Apakah aku siap? Tidak. Aku sama sekali gak siap, dengan aku yang masih begitu. Dengan ilmu agama yang masih enol. Tapi percayalah, dengan berhijab secara otomatis akan berdampak pada diri kita untuk terus berusaha menjadi lebih baik dari segi perilaku, perkataan, dan pemikiran. Perlahan-lahan aku membuat diri aku menjadi siap. Ya, walaupun siap itu bahkan sampai detik ini bukan siap yang seutuhnya, tapi setidaknya lebih baik. Hehe

IMG_3484 (2)
Talent: Alfia Ramadahani

Sekarang harusnya emang semangatnya semakin membara. Selain yang berhijab sekarang jauh lebih banyak, kesadaran yang semakin tinggi, didukung juga oleh model berhijab yang wow, sehingga orang-orang gak ketakutan bakal terlihat gak fashionable karena dia sudah berhijab. Tapi apa iya kita memilih untuk berhijab tapi justru menghilangkan esensi dari berhijab itu sendiri?

Lalu hijab yang benar itu gimana sih? Untuk menjawab pertanyaan itu, aku mau membagi dari yang udah aku dapetin dari dosen aku ketika ada kegiatan pesantrenisasi pra kkn (Iya, ada kegiatan begituan. Soalnya aku adalah salah satu mahasiswa di universitas yang di dalamnya ada kata Islam. Semoga itu bukan hanya sekadar nama ya. Amin. Hehe). Back to the topic, beliau mengatakan bahwa hijab itu terdiri dari pakaian rumah, khimar, dan jilbab. Lebih rincinya begini penjelasannya.

Pakaian rumah? Pakaian rumah itu ya pakaian yang biasa kita pakai sehari-hari di dalam rumah. Pakaian yang bisa kita kenakan hanya di depan muhrim kita aja. Khimar? Khimar itu kerudung. Ukuran kerudung ini adalah menjulur menutupi dada. Jilbab? Jilbab itu pakaian rangkap yang menutupi pakaian rumah, yang terulur menutupi tubuh bagian bawah selain kepala. Atau gampangnya itu baju kurung atau gamis. Nah, jadi berhijab yang benar atau dikatakan hijab syar’i itu kita pakai pakaian rumah yang kemudian ditutupi dengan jilbab dan dilengkapi dengan menggunakan khimar. Tapi aku pribadi berpendapat cukuplah pakai gamis plus khimar aja hehe. Tapi gamisnya  yang jangan terawang dan membentuk tubuh. Sama aja dong kalo gitu? Buat jaga-jaga pakai AJA legging, biar kalo keangkat ya yang keliatan leggingnya hehe. Yaa itu, fungsi dari pakaian rumah yang dimaksudkan misalnya kita pakai celana panjang atau legging atau sejenisnya. Semisal ada di keadaan tertentu yang gak disengaja jilbab kita terangkat, aurat tetap terjaga. Berarti sama aja ya, pakailah pakaian rumah, baru pakai jilbab.

Setelah baca tulisan di atas apa yang ada di pikiran kalian?? Iya. Sama. Pikiran kita sama kok. Sulit memang untuk mencapai tahapan itu. Akupun lagi merangkak menuju ke sana. Tapi, sulit itu bukan berarti gak bisa kan? Semua itu emang ada proses, emang butuh proses. Tapi cepat atau lambat proses itu, tergantung dari kita kan? Kita membiarkannya berjalan lambat, atau mengusahakannya untuk berlari kencang. Terlebih lagi ya kalo kita udah mulai mau membahas tentang omongan orang atau pemikiran orang. Gak usah orang lain deh, diri kita sendiri aja ketika ngeliat perempuan yang berhijab syar’i apa tanggapan kita? “kok gitu banget sih?” “sok alim banget sih?” “eh dia orangnya pasti begitu deh kalo bajunya begitu?” ngaku apa ngaku? Soalnya itu juga yang ada dipikiranku waktu dulu. Tapi, seiring berjalannya waktu (hasyah), sekarang ketika aku lihat perempuan yang berhijab syar’i aku justru salut, adem liatnya, dan pengen segera menyusul. Salut? Jelaslah. Mereka yang udah sampai di tahap itu, mampu menjalankan salah satu kewajiban sebagai seorang perempuan muslim dan melakukannya dengan baik sesuai aturannya. Sadarilah, berhijab itu kebaikannya kembali kepada diri kita kok. Iya, untuk menjaga keindahan yang kita miliki dari mata-mata nakal yang berkeliaran. Hehehe.

Oya untuk mengakhiri ini aku mau mencantumkan kata-kata dari Tawakkol Karman. Tau siapa dia? Misal lupa kayak pernah denger, tapi gak ngeh, klik aja namanya. Dia bilang : “Man in The early times was almost naked, and as his intellect evolved he started wearing clothes. What I am today and what I’m wearing represents the highest level of thought and civilization that man has achieved, and is not regressive. It’s the removal of clothes again that is regressive back to ancient times.” Speechless gak sih?

Talent: Alfia Ramadhani
Talent: Alfia Ramadhani

Thanks Nad, sudah meluangkan waktu buat nulis di blog ini. Nice story! Cerita ini gak berkesan menggurui. Jujur yo, aku yang belum berhijab pun (lagi-lagi karena belum siap, hehe) tak merasa Hih, gitu amat!, seperti pas baca tulisan-tulian lain soal hijab. Semoga ini bermanfaat bagi pembaca sekalian 😀 -3 jUNI 2015-

Advertisements