Hari ini jadwalku untuk pulang ke rumah, melepas rindu pada Magelang. Rencananya sih mau berangkat siang. Namun karena ada urusan, aku berencana pulang selepas magrib.

Sebelum berangkat, awalnya terasa ada yang masih kurang. Ku tengok lagi barang bawaanku, barangkali memang ada yang tertinggal. Lengkap. Yasudah, aku putuskan berangkat seusai sholat.

Masih dengan perasaan mengganjal. Seperti ada yang tidak lengkap. Alhasil di perjalanan aku terus berfikir. 15 menit sudah. Akhirnya ku temukan jawabnya.

Ternyata…

Tidak ada lagi dering handphone berkali-kali sebelum aku pulang.
Tidak ada lagi suara diseberang telfon yang selalu bilang “ampun kondur bengi-bengi. Sesuk esuk gasik mawon.” (jangan pulang malam-malam, besuk pagi-pagi aja ya).
Dan yang terakhir aku sadari, tidak ada lagi sosok yang berdiri di depan rumah ketika aku tiba.

Kira-kira itulah yang selalu dilakukan bapak (dulu) ketika putri bungsunya akan melakukan perjalanan pulang di malam hari. Aku pastikan mulai pukul 4 sore bapak pasti selalu menelfonku. Sekedar untuk memastikan dalam tanyanya. “lagi apa? nanti jadi pulang abis maghrib?”. Kemudian disusul lagi pada telfon di 30 menit berikutnya. “Jadi pulang? Mbok besok aja. Pagi-pagi”. Begitu seterusnya sampai maghrib tiba.

Yah, begitulah bapak. Perjalanan Jogja-Magelang selepas maghrib sudah terlalu malam bagi putrinya. Maka aku yakinkan bahwa aku akan hati-hati agar bapak lega.

Setibnya di rumah, ku dapati sesosok tegas nan berwibawa sudah menugguku di depan. Ku lihat semburat di bibirnya. Senyumnya menandakan kelegaan terdalam. Bapak, setiap gerak geriknya selalu menunjukkan kasih dan cinta.

Aku pun tersadar. Tenyata aku masih diperjalanan. Nostalgia bersama bapak membuat perjalanan ini terasa dekat, tapi berjalan lama. Seperti ada sesuatu yang tiada. Dalam gelapnya langit aku tak lagi tegar seperti dalam terang. Sedikit menangis, beberapa kali sesenggukan.

Maafkan aku Tuhan, bukan berarti aku tak ikhlas. Hanya saja, kepulangan bapak yang belum genap 3 bulan masih sangat terasa. 2500 langkah sebelum tiba di rumah, aku paksakan mata untuk tidak lagi menangis. Demi menguatkan Ibuk yang pasti akan lebih perih melihatku lemah.

Persis di depan rumah, aku suguhkan senyum terbaik di sudut pintu bapak biasanya berdiri menungguku. Sejenak seperti nyata bahwa bapak memang ada di sana.

“Assalamualaikum pak, putrimu sudah tiba di rumah. Jangan khawatir lagi ya. Semoga bapak selalu sehat.”

image
sumber: ig @didianindri

Awal Bulan, 1 Juni 2015.

Advertisements