Ini bukan cerepen, juga bukan puisi. Ini adalah sebuah ide, impian yang bergumul menjadi sebuah harapan.

image
Syahdu beruda lalalala

Pemikiran ini berawal dari aku yang ketika itu sedang melamun. Dari sana tercetuslah ide bahwa aku pingin punya kedai suatu saat nanti. Ide pun berlanjut pada tataran tapi, kafe apa yang cocok ku buka? Kedai kopi? ah, itu sudah menjamur dimana-mana. Terlebih lambungku tidak bersahabat dengan kopi. Jadi, aku tak terlalu paham soal kopi. Oh, akhirnya aku menemukan ide.

Teh! Iya, teh. Setiap hari aku menyeduh teh minimal satu kali. Entah teh hitam atau teh hijau dari beberapa daerah di Indonesia. Pun aku tertarik untuk mempelajari teh. Sebab wangi aromanya sperti menyimpan sebuah rahasia.

Ada beberapa alasan lain mengapa aku ingin memiliki kedai teh. Pertama, karena Indonesia ini penghasil teh terbesar ke 7 di dunia (sebelumnya menduduki peringkat ke 5). Kedua, teh Indonesia diekspor dengan harga jual lumayan tinggi. Ketiga, teh yang biasa masyarakat konsumsi sehari-hari berasal dari luar negeri, kalaupun berasal dari lokal, itu bukan kualitas teh yang terbaik (yang terbaik sudah diekspor). Keempat, berbeda dengan kopi, masyarakat Indonesia tidak menganggap teh sebagai minuman yang istimewa. Konsumsi teh di Indonesia menduduki peringkat ke 70 di Inonesia. Kelima, masyarakat Indonesia tidak memeliki cukup pengetahuan untuk menyeduh teh yang baik. Pasalnya, di jaman Belanda dulu masyarakat hanya diajarkan cara untuk menanam. Sumber.

Atas dasar-dasar itulah aku pingin mendirikan kedai teh. Sederhana saja, kedaiku menyajikan teh-teh terbaik dari seluruh Indonesia. Mulai dari teh hitam, teh merah, teh putih, teh hijau, teh oolong, dan variasinya. Di kedaiku nanti, juga akan ada petunjuk-petunjuk mengenai cara menyeduh teh yang baik dan benar. Pun aku berharap menyeduh teh akan menjadi gaya hidup bagi masyarakat Indonesia.

Ide lain kemudian datang dari partnerku (semoga kelak menjadi partner hidup ya,hehehe). Dia adalah pecinta kopi. Aku dan dia seringkali menikmati pertmuan dan perbincangan dengan cara masing-masing. Dia, seperti biasa memilih kopi dan aku, seperti biasa pula memilih teh. Disela-sela waktu kami, secangkir kopi dan secangkir teh seringkali menjadi perbincangan yang panjang. Menyenangkan sekali!

Maka kemudian aku ingin menambahkan kedaiku sebagai spesialis teh yang juga menyediakan kopi. Membayangkan bagaimana penyuka kopi dan penyuka teh berada dalam satu meja sambil menikmati sajian terbaiknya. Mengingat Indonesia adalah penghasil kopi terbesar ke 3 di dunia, maka kopi yang ku sediakan sederhana saja. Beberapa kopi dari beberapa di Indonesia dan variasinya aku pastikan tersedia di kedaiku.

Beberapa makanan pendamping juga akan ku sediakan. Menu tergantung dari hasil riset tentunya, hehehe. Aku ingin kedaiku ini go offline, no wifi. Kedai ini untuk berbincang, bertatap muka, dan menikmati sajian. Di detik-detik aku melamun, tercetus satu ide untuk menamai kedaiku, When Tea Meets Coffee. Nikmat ya kedengarannya? Ya, semoga saja benar-benar akan terwujud, amin 🙂

-28 Mei 2015-

Advertisements