Dingin malam semakin mememluk erat.
Kehampaan semakin dekat.
22:30 WIB, yang kemudian sama arti dengan 23:30 WITA.

IMG_20150512_202246
INI BUKAN IKLAN

Caption:
Sebelum hitam semakin pekat,
Sebelum rumah menunggumu pulang,
Aku suguhkan segenggam-kopi-kotak-dingin.
(Bahkan aku mulai terbawa caramu untuk menyebut minuman yang selalu kau beli demi – mengulur – waktu – perbincangan – kita)
Terimakasih untuk semua perbincangan (rahasia) di setiap petang mulai membayang.
Semoga malam-malamu selalu berkesan.

22:35 (centang satu)
22:37 (centang dua, centang dua warna biru)

22:40 “hhhmmm…”

“Aku ijin pamit. Disini 23:42”
“Huft. Ya kali aku jawab gak boleh pamit -.-”
“Nggg… Jangan ngambek.”
“Gak”
“Beneran ya? Maaf, selalu berujung serba salah nih aku.”
“Ya”
“Hmmm, jawabnya pendek-pendek?”
“Panjaang”
“Kan kita masih punya banyak waktu. Oke, see you ya…”
“Sip. Salam untuk perempuan(MU) di rumah.”
“Gila! Menenantang maut? Kalau gitu, salam juga untuk LELAKI KAMU.”
TELEK!”
“Muach :* :* :* Love you”

“Sialan bener nih Gatre!” gumam Dek (Panggilan yang Gatre berikan pada perempuan itu. Entah, memang perempuan itu bernama Adek atau memang Gatre menganggap dia sebagai Adeknya) sembari menutup aplikasi instant massangernya.
Memahami mereka berdua sungguhlah rumit. Kalau diibiratkan sebuah lagu, bisa dirangkum dalam lirik lagunya Toto (grup band rock Amerika yang populer di tahun 80-an.Lagu-lagunya, asli deh, enak-enak semua), “Even when love has come and gone, and our hearts have moved along, I will remember you.”
Ya begitulah, ratusan kilometer membentang luas, menghalangi setiap peluk dan cumbu yang tak sempat sampai.
Ribuan detik waktu tak pernah setuju, lama tak kunjung juga mempertemukan mereka.

Gatre dan Dek adalah entah. Mereka sama-sama saling mencuri kesempatan dari kenyataan hidup masing-masing. Saling mendekat ketika hasrat akan kisah lalu menggelora. Kemudian perlahan menjauh, ketika mereka sama-sama lelah. Menyerah pada batas-batas yang tak mampu mereka robohkan. Pola itu terus berulang, dari pemerintahan Mega hingga Jokowi. Tak tahu lagi kapan mereka akan benar-bena berakhir.

Pada sebuah waktu petang mereka yang kesekian kalinya.
“Gatre, berbincang denganmu setara dengan menikmati kopi. Nikmat, menggairahkan, membahagiakan. Sialnya, ketika kopi itu habis asam lambungku kumat. Perutku mual, tapi tak bisa muntah. Di waktu yang sama, badanku lemas, hanya memilih untuk diam.”
“Kalau gitu, anggap saja aku ini teh tawar. Meskipun pahit, dia tetap yang kamu pilh. Simple kan Dek?”
“TELEK!”

Lalu di penghujung malam yang semakin larut.
“Aku tahu kita punya banyak waktu, tapi aku hanyalah persinggahan ketika kamu lelah diperjalanan. Aku percaya kamu akan selau ada, tapi kamu tiada ketika harus pulang. Aku hanyalah sepetak tanah kosong, yang tak akan pernah menjadi tempat untukmu pulang.”
“Hhhmmmm…”
“Huft, pulang sana. Rumah menununggumu.”
“Pulang ke kotamu? Wkwkwk 😀 Kopi-kotak-dinginnya masih nih. Aku mampir Alf****t untuk menuntaskan perbincangan kita.”

Karena memang benar, terkadang kita harus terima bahwa ada orang yang hanya bisa tinggal di hati kita, tapi bukan di hidup kita.
Selamat menikmati akhir pekan #31harimenulis.
23 Mei 2015.

Advertisements