Sekeping cerita lalu yang baru saja melintas. Pada suatu waktu ketika ujian hidup terberat sebatas pada PR matematika. Segenggam percakapan saat aku kecil mengenakan seragam putih-merah.

“Dek, sangune (uang saku) di atas meja belajarmu ya.”, kata Ibuk.

Aku tidak menjawab, memilih untuk segera berlari menjemput uang-uang itu. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain ketika disangoni di jaman itu. Sesampainya di kamar aku kaget melihat jumlah sanguku lebih banyak daripada biasanya. Bahagia sih, tapi aku coba konfirmasi lagi ke ibuk.

“Lho buk, sangune Dian ditambahin?”, tanyaku sambil pringas-pringis bahagia.

“Ya enggak. Sekarang lak wes kelas 5 SD to. Sangune bulanan ya, udah gak mingguan lagi. Peraturannya masih sama lho, kalau sangune habis sebelum waktunya gak tak kasih.”, jawab ibuk yang aku sambut dengan melongo.

Sedikit ceita lalu itu yang aku jadikan materi dalam tulisan ini. Tulisan pertama dalam kategori daily life di blog didianindri.wordpress.com. Seperti dalam diskripsi tentang daily life, yaitu about woman, kategori ini ku posisikan sebagai tempat untuk menuliskan tentang kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi, cerita-cerita sederhana tentang perempuan. Gak perlu terlalu serius, gak perlu harus memakai teori perempuan yang ini itu. Kali ini aku menuliskannya hanya berdasar pengalaman pribadi, dari ajaran ibukku, selama bertahun-tahun lalu.
Sejak aku duduk di bangku SD, aku berbeda dari kebanyakan temanku soal uang saku. Bukan soal nominal lho ya, ini soal sistem pemberian uang saku. Di kelas 1-2 SD sistem pemberian uang saku masih bersifat harian. Saat itu masih sama dengan teman-teman yang lain. Setiap pagi hendak berangkat sekolah diberi uang saku. Kalau sisa ya aku menabung, kalau gak ya gak masalah.
Di kelas 3-4 SD naik level menjadi mingguan. Setiap hari Minggu, Ibuk memberikan uang saku. Di situ aku mulai merasa ada tantangan. Harus pinter-pinter menahan jajan. Menyimpan uang biar gak habis sebelum hari Sabtu berakhir. Sampai akhirnya sejak kelas 5 SD mulai berlaku sistem uang saku bulanan. Kata Ibuk dulu “kamu kan udah mulai gedhe. Mulai belajar ngatur uang ya. Biar besok ke depannya jadi lebih gampang.” Maka segala kebutuhanku mulai dari uang saku, pulsa, diberikan setiap bulan di tanggal 2, mengingat almarhum bapak gajian setiap tanggal 1. Nanti kalau ada kebutuhan mendadak diluar tanggungjawabku, seperti membeli buku paket atau LKS, aku rapel dulu. Setelah itu aku laporan dan diganti uangnya.
Tantangan terbesar pun datang ketika kelas 5SD aku memegang uang bulanan. Aku berusaha keras agar uang-uang itu tidak lenyap sebelum tanggal 1 berlalu. Aku sempat menitipkan uang saku bulanan ke mbakku. Tapi malah dijawab, “lha yo percuma to Dek dititipin, gimana kamu bisa belajar ngatur uang.” Gagal memakai cara itu, aku menyimpan uang di kaleng. Aku hanya mengambilnya setiap seminggu sekali, sehingga tak terlalu memberatkan. Berhasil! Di masa-masa SD aku merasa bangga bercerita ke teman-temanku bahwa aku sudah bisa mengatur uang bulanan, setidaknya uang bulananku sendiri.
Hal terpenting yang harus aku katakan di sisni adalah terimakasih yang sebesar-besarnya kepada almarhum bapak. Di waktu-waktu tampangku mulai melas nan mengenaskan beliau selalu memberikan sejumlah uang dan selalu bilang, “Nih ada uang saku tambahan. Gak usah bilang Ibuk, biar gak dimarahin. Tapi tetep jangan-jangan boros lho ya!” Di saat-saat itu aku merasa bahagia dan tertolong. Bapak seperti memberikan nafas segar bagi hari-hariku (halaahh,, opo iki). Aahh,, I really miss you Pak, baik-baik di surga ya.
Jadi, dari semua cerita ini aku mau menyimpulkan sesuatu. Intinya bahwa “MENJADI PERMPUAN ITU HARUS PANDAI MENGATUR UANG”, ini mutlak dan gak bisa ditawar-tawar lagi bagiku. Pun seiring berjalannya waktu, semakin aku bertambah dewasa aku paham mengapa Ibuk menerapkan sistem uang saku bulanan sejak aku SD. Dari pengalaman-pengalaman, pengamatan, dan perbincangan dengan orang-orang yang aku temui, berikut merupakan beberapa penjelasan yang aku buat sendiri.
ALASAN MENGAPA MENJADI PEREMPUAN ITU HARUS PANDAI MENGATUR UANG.

  1. Pada saat berumah tangga nanti, pemegang keuangan berada di tangan istri
    Mau kamu wanita karier, full time ibu rumah tangga, setengah karir setengah ibu rumah tangga, kamu akan tetap jadi pemegang keuangan sekaligus menjadi manajer rumah tangga. Pasalnya, penghasilan suami pasti akan diberikan pada istri. Nah, dengan terbiasa mengatur keuanganmu sejak kecil, berati kamu mulai merencanakan uang dalam hidupmu. Sampai detik ini, I must say thankyou for ibuk yang telah mendidikku dengan cara sedemikan rupa.
  2.  Cara kamu mengatur uang akan berdampak pada gaya hidup anak-anakmu nanti
    Kok bisa? Ya bisa saja. Aku mengamati hal ini dari beberapa kehidupan orang-orang terdekatku. Konon ceritanya, si Ibu A ini memang suka membeli gaya hidup. Semuanya serba terlihat mewah. Kok Cuma terlihat? Lha iya, dibalik gaya hidupnya yang seperti itu, di dalem rumahnya tuh enggak banget. Bahasa kasarnya sih, keteteran, nggak terpenuhi dengan benar. Alhasil, gaya hidup ibu A ini ditiru oleh anaknya yang bernama mbak B. Saat ini mbak B sudah berumah tangga dan ya kejadiannya berulang lagi. Si mbak B ini terlalu sering membeli gaya hidupnya sampai lupa pada kebutuhan hidupnya. Btw, orang yang aku ceritakan ini tergolong dalam orang-orang terdekatku. Jadi, gak perlu curiga kalau aku ini cuma ngarang cerita. Hehehehe 😀
    Nah, dari pengalamanku belajar mengatur uang bulanan sejak SD, aku dapet banyak pelajaran. Salah satunya, aku harus tahu kapan saatnya membeli gaya hidup dan tetap tidak lupa pada kebutuhan hidup.
  3. Manajemen uang memengaruhi berjalannya rencana-rencana masa depan.                                                          Kata orang-orang menajemen keuangan laki-laki itu jauh lebih buruk dari perempuan. Disinilah letak pentingnya kemampuan kita. Dalam sebuah rumah tangga, pasti ada rencana-rencana yang sudah dirancang. Sebagus apapun rencana itu gak akan tercapai kalau perempuan ga bisa ngatur uang. Banyak sekali kejadian disekitarku yang ketika suami sedikit aja memiliki penghasilan lebih, istrinya lupa diri. Lupa diri ini kemudian berlanjut hingga akhirnya, gak sadar, keadaannya sudah benar-benar buruk. Pada saat aku duduk di bangku SMP, aku mulai menanyakan pada ibukku tentang penghasilan bapak dan bagaimana cara ibu mengelolanya. Sebagai anak, aku merasa harus tahu bagaimana orangtauku menghidupi kami semua. Aku mulai paham, bahwasanya intinya sebagai manajer rumah tangga perempuan harus bisa membedakan mana yang kebutuhan dan keinginan. Satu hal besar yang aku mengerti saat itu adalah bagaimana ibuk meredam egonya demi masa depan kami (ketiga putri Ibuk). Ya kira-kira begitulah. Hal ini aku juga melihat dari mbakku yang baru saja memiliki anak. Ada perubahan alamiah ketika mbakku masih lajang, baru menikah, dan sudah menjadi seorang Ibuk. Perubahan alamiah yang terjadi adalah mbakku lebih selektif setiap mau membeli sesuatu. Katanya, “Ini bukan ngirit atau pelit sih. Sekarang kan sudah ada Kiran (keponakanku). Jadi ya, ya proioritasku anakku.” Mendengar hal itu, aku senyum-senyum sendiri sambil membayangkan aku di masa depan, seorang Dian yang telah menjadi manajer rumah tangga. Wkwkwkw, dasar, skripsi aja belum, udah berani mikir rumah tangga :D.

Dari seluruh penjelasan nan panjang dan membingungkan ini, aku simpulkan bahwa pandai mengatur keuangan itu penting bagi perempuan. Besok, kalau kalian punya anak, coba deh terapkan sistem seperti yang Ibukku ajarkan padaku. Trust me, it works! (halah, malah ngiklanke L-Men). Aku pikir cukup di sini dulu obrolanku. Takut berefek samping muntah-muntah pada pembacanya nih. Oiya, ada satu pesan penting yang belum akus sampaikan. Katanya, AJARKAN PADA ANAK-ANAK KALIAN TENTANG KEBUTUHAN HIDUP, BUKAN GAYA HIDUP. Oke, selamat melanjutkan perjalanan! See you on top perempuan-perempuan hebat!
¬-22 Mei 2015-

Advertisements