Tulisan ini merupakan sebuah catatan (karena masih terlau jauh untuk disebut sebagai review) dari hasil menonton, menyimak, dan mengamati film Filososfi Kopi.

kopi
Sumber Gambar: http://res.cloudinary.com/ansvia/image/upload/v1429008165/mnozzxnorbfydoqt11qc.jpg

            Sebenarnya aku menuliskan tulisan ini terlalu lambat. Aku menonton film Filosofi Kopi pada tanggal 14 April 2015. Merasa terpikat dengan filmya, aku mencoba untuk menuliskan catatan mengenai film itu. Niat menulis sih sudah ada sejak aku selesai menonton film. Apa daya, tetep aja baru terealisasikan sekarang. Hehehee, maafkan.

            Aku gak mau terlalu serius menyebut tulisan ini sebagai sebuah review film. Masih terlalu jauh tulisan ini bisa dinobatkan sebagai sebuah review. Disini posisi aku cuma sebagai orang yang suka nulis, suka sama novel Filosofi Kopi garapan Dee Lestari, dan aku berada di lingkaran pecinta kopi. So, anggap saja aku ingin berdiskusi, berbgai pandangan sama kalian. Pun aku tak peduli meski film ini mungkin dianggap basi. Boleh jadi begitu, tapi kan yang namanya tulisan tetap aja, selamanya akan abadi, hehehe.

            Sebelum menonton film ini aku udah ngerasa pesimis duluan. Kok pesimis? Lha iya, aku takut merasa kecewa. Pasalnya, sudah beberapa kali aku menonton film Indonesia yang diadaptasi dari novel, hasilnya meleset dari harapan. Ternyata, film garapan Visinema Pictures ini beda dari kebanyakan film adaptasi novel yang lain. Film yang menceritakan persahabatan barista bernama Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) dalam membangun kedai Filosofi Kopi ini dikemas secara rapi dan runtut. Meski aku akui, beberapa plot, penambahan karater dalam film ini berbeda dari novel aslinya. Bisa dibilang beda jauh malahan, tapi film ini be different in the good way!

filosofi-kopi
Cover Filosofi Kopi. Sumber Gambar: http://www.danieldokter.files.wordpress.com

            Angga Dwimas Sasongko, sang sutradara,  memang gak pernah bercanda soal film. Sama seperti Ben yang selalu bilang “gue gak pernah bercanda soal kopi”. Apabila film adaptasi novel yang lain biasanya semrawut dalam membangun alur cerita, film ini justru sebaliknya. Dwimas memang pandai membuat racikan penambahan plot cerita dan karakter, sehingga menjadikan film ini layaknya Kopi Tiwus. Nikmat dan sedap! Layaknya secangkir kopi tiwus, film ini memberikan kesegaran baru bagi kisah Filosofi Kopi itu sendiri. Oleh karenanya, aku merasa tidak perlu membandingkan film ini dengan novel aslinya.

            Bagian yang membuat aku terpikat adalah penggamabaran Ben dan Jody. Karakter mereka sangat kuat dan membuat film ini semakin hidup. Aku terpesona dengan Ben yang teguh pada idealismenya tentang kopi. Juga terpikat dengan Jody dengan realismenya demi mempertahankan denyut nadi si Filosofi Kopi. Pebedaan diantara dua kepala dan dua hati tesebut akhirnya menyulut masalah-masalah kecil. Sampai pada akhirnya, datanglah sesosok El (Julie Estelle). Kehadiran El menghancurkan obsesi Ben dalam pencarian kesempurnaan atas racikan kopi. Dihadapan El, Ben’s Perfecto bukanlah yang ter-sempurna, seperti yang Ben kira. Hal itu membawa mereka Ben, Jody, dan El pada sebuah kisah di masa lalu.

            Pak Seno dan kopi tiwus adalah sebuah perjalanan berharga bagi mereka. Kisah lalu Pak Seno dan kopi tiwus mengantarkan mereka ke satu titik, bahwa dalam hidup ini tidak ada yang sempurna. Ben si keras kepala dan idealisnya perlahan mulai melunak. Jody dengan ambisi dan realistisnya perlahan mulai melentur. Mereka tersadar bahwa pada akhirnya hal terpenting yang harus mereka taklukan adalah bisa berdamai dengan masa lalu, emaafkan orang lain dan memberi ruang baru bagi diri mereka sendiri. Satu pelajaran yang bisa aku petik dari scene ini adalah bawa “terserah kamu mau jadi orang kayak gimana, mau idealis atau realistis, itu pilihan. Tapi, kamu harus paham satu hal. Kalau kamu mau bebas melangkah ke depan, mau hidupmu lepas, kamu harus berdamai sama masa lalu”. Ada benernya juga memang, kadang aku sendiri juga ngrasa berat banget untuk berdamai dengan yang namanya masa lalu.

Hidup ini cari, maka kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu.
Hidup ini cari, maka kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu. Sumber Gambar: http://www.thejakartapost.com

            Ada satu lalgi scene yang paling ngena di hati aku di film ini. Pas si Jody menjemput Ben yang memilih pergi untuk berdamai dengan mas lalunya. Jody sadar bahwa sebagai si realistis dia butuh si idealis. Si Filosofi Kopi menjadi seperti tak bernyawa tanpa Ben. Jika diibartkan Filosofi Kopi adalah seorang manusia, maka Ben adalah hatinya dan Jody adalah otaknya. Si Filosofi Kopi tak mungkin bisa hidup jika salah satunya tiada. Di sini aku narik satu kesimpulan bahwa “dalam menjalani hidup ini, sebagai manusia kita gak bisa saklek. Kita gak bisa terus-terusan menjadi idealis atau realistis. Pada suatu waktu, si idealis harus menjadi idealis dan si realistis harus menjadi idealis”.

            Seperti filosofi kopi tiwus yang mengatakan bahwa dalam hidup ini tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan film ini. Walaupun secara garis besar aku bilang that’s good, film ini tetap memiliki kekurangan. Menurtku lebih ke teknis sih. Seingatku, dalam beberapa adengan ( ketika dua orang berbincang), kamera bergoyang. Aku sempat membatin, “kok itu goyang kenapa sih kameranya? Kan Cuma adegan dua orang berbincang”. Akan tetapi, kekurangan itu bisa ditutupi dengan kerapian product placement sponsorhip dalam film ini. Keberadaan brand Torabika dan brand Lenovo terlihat natural sehingga tidak menganggu secara visual.

            Bercerita tentang Filososfi Kopi tidak cukup jika hanya membicarakan film itu  sendiri. Gak ada salahnya kita membahas sedikit faktor eksternal. Aku sangat suka dengan strategi merketing yang dipilih. Pasalnya, kedai Filosofi Kopi benar-benar ada di daerah Jakarta. Rencananya si barista Ben akan dihadirkan di sana dalam beberapa kesempatan.[1] Para pemilik kedai kopi di seluruh Indonesia juga turut mendukung film ini. Beberapa kedai kopi memberikan diskon atau kopi gratis bagi pelanggan yang menunjukkan tiket nonton Filsosfi Kopi. Wow, ini enggagment­nya kuat ya! Maklum, mungkin karena ini film pertama tentang kopi di Indonesia. Semoga ada film-film seperti ini lah ke depannya. Banyak pihak yang merasa terlibat, asyik jadinya.

            Terakhir, aku mau bilang. Dari film ini, aku jadi ngerti bahwa kopi ternyata tidak sesimple itu. Ada banyak proses, mulai dari penanaman hingga lelang-melelang. Setidaknya aku sekarang paham, kenapa teman-temanku yang tergolong coffee lovers selau ribet soal takaran. Ya, ternyata memang kopi tidak sesimple itu.

[1] http://print.kompas.com/baca/2015/04/11/Filosofi-Kopi%2c-Rekonsiliasi-dan-Ego-yang-Takluk. Diakses pada 21 Mei 2015.

21 Mei 2015.

Advertisements