Berbekal keseloan dan kegabutan maksimal, Kamis minggu lalu aku dan adikku kembali melanjutkan agenda #ExploreMagelang. Kami mencoba untuk tetap produktif walaupun sedang libur semester. Salah satunya ya dengan melakukan perjalanan, semacam jalan-jalan men gitu :p :D. Jangan salah, jalan-jalan termasuk salah satu kegiatan produktif loh! Apalagi kalo perjalanan itu dibagikan sama temen-temen yang lain lewat tulisan? Bbeettuull gaakkk? Udah, bilang aja betul 😀


Hari itu aku dan adikku memtuskan untuk singgah di beberapa tempat yang belum pernah kami kunjungi. Salah satu diantaranya kami mengeksplorasi daerah Borobudur. Tau kan Borobudur? Nah, daerah Borobudur yang terletak di kabupaten Magelang (INGAT, KABUPATEN MAGELANG, BUKAN JOGJA YA!) ini, memang terkenal dengan wisata candinya. Selain Borobudur, masih ada candi pawon, dan candi Mendut. Akan tetapi, aku dan adikku tidak berkunjung ke sana.
House of Camera Gallery atau sering disebut sebagai Rumah Kamera adalah tujuan pertama ketika sampai di daerah Borobudur. Tidak sulit kok mencari lokasinya. Dari pertigaan menuju ke Candi Borobudur, ambil arah kiri (menuju Manohara Hotel), kemudian lurus saja ikuti jalan. Di sepanjang perjalanan ada beberapa plang atau petunjuk jalan menuju ke rumah kamera. Rumah kamera ini ada di sebelah kiri jalan, tepatnya di desa Majaksingi. Kalau teman-teman bingung, tanyakan saja pada warga sekitar. Kalian akan merasakan betapa ramahnya wong Magelang, aku jamin deh!
Setibanya di sana, aku disambut oleh warga sekitar yang menjadi petugas di rumah kamera. Sebelum masuk, mbak-mbak itu menawarkan aku untuk masuk ke bangunan disebelah rumah kamera. Ternyata tempat itu adalah Selfie Paradise. Sesuai dengan namanya, tempat itu cocok disebut sebagai “surganya para selfie-er”. Di sana tersedia berbagai lukisan 3D yang bisa digunakan untuk selfie. Harga tiket masuk selfie paradise sebesar 15k. Teman-teman selfie-er bisa foto-foto di sana sebanyak mungkin dan sepuas mungkin hanya dengan membeli tiket masuk tersebut. Aku dan adikku memutuskan untuk tidak masuk kesana karena memang kami bukan selfier, hehehehe . Selfie paradise ini merupakan satu kesatuan dan bagian dari rumah kamera.

IMG_5823
Rumah Kamera Tampak Depan
IMG_5830
Rumah Kamera Dengan Sedikit Area Samping. Tenda Biru di Foto adalah Lokasi Selfie Paradise.

Aku terpesona dengan arsitektur rumah kamera ini. Gagah, megah, dan hitam (warna kesukaanku nih. Wkwkwkw). Rumah kamera ini berbentuk kamera DSLR yang terdiri dari dua bagian, yaitu camera body dan camera lens. Bagian body (kanan dan kiri) digunakan sebagai tempat tinggal Tanggol Angien Jatikusuomo (Tan Hok Lay), pemilik rumah kamera dan bagian lens (lensa) digunakan sebagai art gallery. Bagian viewfinder digunakan sebagai pintu masuk, sedangkan bagian mode dan display digunakan sebagai jendela. Harga tiket masuk rumah kamera sebesar 5k saja. Murah bukan? Di sini, teman-teman bisa menikmati lukisan karya pak Tanggol dari tahun ke tahun.
Dipojok ruangan lantai 1, aku menemukan autobigrafi pak Tanggol. Beliau merupakan salah satu seniman lukis Indonesia yang cukup famous. Beliau pernah singgah diberbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Bali, Jakarta, Batam, Solo, hingga akhirnya di Magelang. Karya-karya beliau telah diakui secara nasional maupun internasional. Banyak petinggi negeri ini menggemari lukisan pak Tanggol, seperti bapak Habibie, ibu Tien Soherato, dan lain sebagainya. Silakan langsung cekidot foto autobiografi lengkapnya ya. Biar lebih jelas, puas, dan pas 

IMG_5805
Autobiografi Pak Tanggol

Setelah itu saya berjalan menuju lantai 2 dan 3 untuk melihat karya pak Tanggol yang lain. Beberapa karya sudah sold out dan beberapa diantaranya merupakan lukisan baru. Jujur saja, aku bukan penikmat lukisan, makanya aku tidak bisa memberikan ulasan tentang karya pak Tanggol ini. Setahu aku, lukisan pak Tanggol merupakan lukisan naturalis impersionostik, menurut yang tertulis dalam autobiografi.
Setelah puas melihat karya pak Tanggol, aku menuju lantai 4, yang berarti pucuk dari camera lens. Dan ttaaaraaaa….. Woho, ternyata di lantai 4 ini terdapat arena gembok cinta. Wahai pemuda-pemudi harapan bangsa, pasangkan gembok dan tuliskan sekelumit doa cinta kalian di sini! Semoga kisah kasih asmara kalian selamat sampai di pelaminan kelak  ! hahaha…. Tidak perlu ke Korea, tidak perlu ke Paris, tidak perlu ke Taiwan, cukup ke rumah kamera Borobudur Indonesia saja, menarik bukan? Di sana berpuluh gembok serta doa-doanya terkunci rapat. Selain gembok cinta, aku juga menikmati keindahan alam desa Majaksingi, hijau dan menyegarkan meskipun cuaca terik sekali siang itu.

IMG_5808
Hijaunya Alam Majaksingi dari Rumah Kamera
IMG_5807
Suasana Gembok Cinta di Puncak Lensa
IMG_5809
Salah Satu Doa Pasangan. Semoga Cepet Nikah ya Kalian!

Setalah mataku kembali segar melihat hijau dedaunan, aku kembali turun. Ternyata, pak Tanggol sudah duduk di loket pembelian tiket masuk. Ini bukan kebetulan, karena memang aku sudah bilang pada petugas loket bahwa aku ingin berbincang dengan pak Tanggol. Beliau sangat ramah dan menyenangkan. Kami berbincang panjang lebar, mulai dari karya pak Tanggol hingga pembangunan rumah kamera. Selain rumah kamera, ternyata pak Tanggol juga memiliki galeri lukisan yang berada di Bali.
Pembangunan rumah kamera ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun yang dimulai pada tahun 2012. Di bulan ke-6 pembangunan, pak Tanggol pindah dan tinggal ke Magelang bersama keluarganya (Ibu, mungkin yang dimaksud istri, dan satu orang anak) sembari mengawasi tukang-tukang. Uniknya, rumah kamera ini tidak digarap oleh arsitek manapun. Pak Tanggol-lah yang menggambar sendiri konsep bangunan ini. Wow, keren sekali ya! Tentunya ada beberapa kendala selama pembangunan berjalan. Pada awalnya tukang-tukang bangunan sempat bingung juga dengan konsep pembangunan rumah kamera ini. Untuk budget, biayanya mencakup 1miliar, belum termasuk bangunan selfie paradise. Totalitas sekali bukan? Pak Tanggol telah Mengeluarkan waktu, biaya, dan tenaga demi kecintaannya kepada seni. Pengunjung rumah kamera ini tercatat berasal dari berbagi daerah di Indonesia, baik dalam pulau Jawa maupun luar pulau Jawa. Ada pengunjung dari Wamena, Bali, Lombok, dan daerah lain.
Perbincangan terus berlangsung seru, berlanjut hingga akhirnya aku tiba pada satu pertanyaan penutup. Kira-kira, seperti inilah kalimat tanya yag aku ajukan. “Sebenarnya apa yang menginspirasi pak Tanggol untuk membangun rumah kamera?”. Beliau menjawab, “Ini merupakan balas dendam saya karena dulu saya ingin sekali memiliki kamera DSLR. Di jaman saya, butuh perjuangan yang panjang untuk bisa membeli kamera DSLR. Kamu beruntung loh, bisa punya kamera DSLR dengan mudah. Nah, karena itulah akhirnya saya membangun rumah kamera. Walaupun saya tidak punya kamera DSLR, saya punya rumah kamera”. Dan sontak kami bertiga tertawa terbahak-bahak bersama. Apa yang dikatakan pak Tanggol mungkin terdengar lucu, tapi masuk akal dan masuk kategori very big reason. Good job, pak Tanggol!

IMG_5816
Aku Bersama Pak Tanggol

Sebelum aku dan adikku berpamitan, aku melihat sisi lain dari pak Tanggol dan rumah kamera ini. Ternyata, pak Tanggol membuka sekolah melukis gratis bagi anak-anak. Biasanya anak-anak daerah setempat yang belajar di sana. Pak Tanggol akan mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk mengajar anak anak melukis. Beliau ingin mengasah jiwa seni setiap insan yang diharapkan agar para seniman muda tidak hanya menjadi buruh kaum kapitalis, namun bisa berdikari dalam naungan dimana dia lahir dan hidup. Aku merasa bangga pernah bertemu dan berbincang dengan beliau. Stigmaku tentang seniman mulai berubah. Ternyata tidak semua seniman seperti yang orang-orang bicarakan selama ini. Tidak lupa aku dan adikku berfoto bersama pak Tanggol.
Aku akan melanjutkan perjalanan mengeksplorasi tempat yang lain. Di parkiran motor, kulihat anak-anak berseragam olahraga SD berlarian ke arah rumah kamera. Untuk apa lagi kalau bukan untuk belajar melukis? Aku yakin setibanya di dalam sana mereka akan berhamburan, berembut mencium tangan pak Tanggol. Kemudian dengan tidak sabaran, mereka ingin segera tahu, apa yang akan diajarkan pak Tanggol kali ini? Jika ku rasakan lebih dalam, kulihat lebih dekat, kudengar lebih seksama, rumah kamera ini memiliki nyawa yang berbeda. Ia benar-benar hidup di setiap orang yang berada di dekatnya. Terlebih sejuta kebaikan yang telah ditebar oleh pak Tanggol. House of Camera Borobudur, More Than An Art Gallery. Dia adalah jiwa.

Advertisements