Pagi itu mentari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur. Sinarnya hangat menyapa umat manusia, termasuk aku. Sepertinya ia tahu rencanaku pagi ini. Bersiap menyambutku untuk mendaki pakunya tanah jawa. Di sela-sela perjalannya aku akan merekam suasana, menangkap setiap jejak langkah, dan menceritakannya kepada kalian.

Gunung Tidar, ya, orang-orang menyebutnya demikian. Gunung ini sebenarnya terlalu rendah untuk disebut gunung. Lebih cocok disebut bukit menurutku. Ketinggiannya berada di 503mdpl. Dilembahnya, ada beratus-ratus lelaki yang digandrungi para gadis dan orangtuanya. Ku sebut mereka lelaki lembah tidar. Lelaki berpinggang indah yang singgah sebentar di kota Magelang demi mengejar pangkat Perwira. Tak jarang juga mereka hanya singgah sebentar di hati para gadis Magelang. 😦 Memilukan. Nah, begini nih kalau hujan sedang deras-derasnya. Malah jadi salah fokus dan mendadak ngomongin cinta, cinta lagi, lagi-lagi cinta. 😀 Hehehe… Kembali ke Gunung Tidar, ia juga menjadi salah satu ikon kota Magelang.
Pendakian ini memakan waktu sekitar 30 menit. Jalur pendakian sebenarnya ada dua, melewati Akademi Militer (sekolahnya para lelaki lembah tidar) dan jalur umum di Magersari yang berada di kawasan terminal lama kota Magelang. Ketika memasuki kawasan Gunung Tidar aku terkesan sebab sudah ada banyak perubahan. Di sepanjang jalan sebelum memasuki pintu pendakian telah dibangun tembok-tembok dengan gaya artistik. Berbeda sekali dengan kunjunganku sekitar 7 tahun silam.
Setibanya di pintu pendakian tak lupa aku lirih menyapanya, “Selamat pagi pakunya taah Jawa, apa kabar?”. Dan ternyata jawabannya sudah ada di depan mata. Bertahun aku tak berkunjung, aku tahu bahwa kabarnya luar biasa baik. Ia telah benar-benar tertata. Jalur pendakian sudah dirombak dengan menggunakan semen. Di kanan-kirinya ada pegangan tangan. Sementara di sisi luar terdapat lampu-lampu yang pasti cantik ketika nyala di malam hari. Di sepanjang pendakian aku banyak menjumpai pohon pinus dan pohon salak. Sebenarnya masih banyak pepohonan besar yang aku tak tau namanya. Akan lebih baik jika pengelola memberi keterangan mengenai pohon-pohon tersebut.

Memasuki Jalur Pendakian
Jalur Pendakian yang Terlihat Cantik

Gunung Tidar, selain terkenal dengan sebutan pakunya tanah Jawa, juga terkenal sebagai situs wisata spiritual. Terdapat beberapa situs yang masih rutin di datangi para peziarah. Situs pertama yang aku temui pagi itu adalah makam Syaikh Subakir. Makam yang tampak di foto tersebut sudah di rombak. Berbeda dengan 7 tahun silam. Sebenarnya dibalik bangunan terdapat peziarah yang sedang mengaji dan berdoa. Demi menjaga etika aku enggan memotret aktivitas mereka. (Ini bukannya sok loh, tapi aku mencoba mengaplikasikan apa yang udah aku pelajari di perkuliahan.. ehehehe..)

IMG_5708
Makam Syaikh Subakir Tampak Belakang

Tak jauh dari makam Syaikh Subakir, terdapat makam Kyai Sepanjang. Makam Kyai Sepanjang ini memang benar-benar panjang, sesuai dengan namanya. Menurut kalian, Kyai Sepanjang itu siapa? Udah ku pastikan pasti kalian menebak kalau Kyai Sepanjang itu alim ulama. Iya kan? Udah ngaku aja…. Aku juga gitu soalnya.. ehehe… Dan ternyata bukan, Kyai Sepanjang bukan alim manusia. Konon katanya, itu nama tombak yang dibawa oleh Sayikh Subakir ketika berperang di Gunung Tidar dikala itu. Oiya, menurut sebuah sumber panjang makam Kyai Sepanjang sekitar 7 meter. Situs sumber akan aku cantumkan nanti ya, setelah selesai menceritakan semua situs yang ada di Gunung Tidar selesai ku ceritakan.
Oiya ada yang tertinggal, di dekat makam Syekh Subakir tadi ada toilet dan mushola. Keduanya bersih dan sangat terawat. Jadi, untuk temen-temen yang beser atau kebelet ada baiknya buang air dulu sebelum melanjutkan pendakian ke atas. Selain mushola dan toilet ada kaki lima yang menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila… (Lhah, malah nanyi lagune Katon ki pie…) Untuk kalian yang lupa membawa bekal, bisa jajan di sana. Penuhi amunisi untuk sampai ke puncak nanti 🙂

Kembali lagi ke pendakian, setelah makam Kyai Sepanjang tidak ada lagi situs di sepanjang pendakian. Hanya kicauan burung diselingi suara jangkrik dan beberapa oranng-orang sepuh yang sedang menyapu jalan pendakian. Jangan kira suasana pendakianmenjadi membosankan. Terdapat beberapa spot ciamik untuk kalian yang ingin narsis pake tongsis atau para fotografer yang lagi hunting buat menuhin akun instagramnya :p (aku bangetlah kalau yang kedua. Hahaha..)

Dengan tetap menikmati suasana tapi tetap mengabadikannya, tibalah aku di puncak. Pagi itu aku dan adikku (dia yang menjadi partner pendakian kali ini) adalah couple pertama yang tiba di puncak. Masih sepi manusia, tapi ramai dedaunan yang saling beradu. Begitu aku menginjakkan kaki di puncak, aku melihat ada dua situs yang menarik mataku. Pertama, ada tugu (semacam tugu monas) yang didirikan oleh Akabri kala itu. Sayangnya tidak ada keterangan di sana.

IMG_5706
Salah satu spot di puncak. ademnyaa 🙂
IMG_5693
Tugu (seperti Monas) yang dibangun oleh Akabri

Aku juga menemukan adanya dua pohon Kalpataru yang pernah ditanam mantan Presiden SBY beserta istrinya, Ibu Ani. Nah loh, presiden aja pernah naik Gunung Tidar, masak kalian belum? Gak kepingin? Yakin? Ahahahaha…

IMG_5669
Ini buktinya. Kaau penasaran sama pohonnya boleh lho mendaki, nanti saya temeni 🙂

Kemudian satu lagi, ada sebuah tugu pendek. Mungkin hanya sekitar satu meter. Di sekitar tugu kecil itu ada sesajen dan bebungaan. Karena tidak ada keterangan, aku tidak tahu dan sayang sekali tidak memotret situs tersebut. Padahal, setelah aku googling ternyata itu adalah Tugu Sapa Salah Seleh yang tidak lain adalah pakunya tanah jawa. Pernah aku mendengar mitos bahwasanya kalau paku itu dicabut pulau Jawa akan tenggelam. Wow, berapa liter air ya yang dikandung sama Gunung Tidar ini?

tugu-diatas-gunung-tidar
Tugu Paku Tidar Sumber: http://yogyakarta.panduanwisata.id/files/2012/10/tugu-diatas-gunung-tidar.jpg

Setelah aku berkeliling aku menemukan adanya jalan setapak menuju ke sebuah tempat. Aku dan adikku perlahan mengikuti jalan itu dan tibalah kita pada sebuah bangunan besar dan tinggi berbentuk caping. Di pucuk caping terdapat miniatur keris dan diseputar kepala caping ada tulisan aksara jawa lengkap. Bangunan itu digembok dimana ukiran pintu ternyata adalah “gunungan wayang dan semar”. Di sekitar bangunan itu ada dua penjaga yang tertidur pulas. Jadilah kita berdua memotret dengan hawa-hawa merinding. Suasana mistisnya terasa padahal itu di siang bolong. Sesampainya di rumah, aku kembali googling demi memenuhi rasa ingin tahuku. Menurut sumber, bangunan caping itu adalah makam Kyai Semar yang diyakini sebagai jin penunggu Gunung Tidar waktu itu.

IMG_5672
Makam Kyai Semar
IMG_5685
Saking penassarannya motret dalemnya
IMG_5686
Tampak samping. Antara takut dan keburu-buru jadi hasilnya apa adanya.

Disepanjang perjalanan aku turun ke gunung, aku bertemu dengan adik-adik SD. Mereka akan berolahraga di puncak sepertinya. Sejenak aku bernostalgia ketika masih se-umur mereka. Mendadak berasa udah tua nih 😀 Informasi tambahan lagi nih, Gunung Tidar ini juga difungsikan untuk menggembleng para lelaki lembah tidar lho :D. Buat para gadis, kalau lagi beruntung pas naik bisa ketemu abang-abang itu. wkwkwkwk 😀

IMG_5711
Ketemu adik-adik dari SDN Tidar 4

Seperti yang udah aku janjikan, tentang situs dan mitos Gunung Tidar aku dapetin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tidar dan http://www.tempo.co/read/news/2011/05/15/161334638/Karnaval-Paku-Tidar-Ramaikan-Magelang. Maaf masih mencantumkan sumber dari Wikipedia. Soalnya belum menemukan sumber lain yang meyakinkan. Hehehe.. Untung bukan tugas dosen, kalau tugas dosen pasti langsung dikick nih pake sumber Wikipedia. Oke sekian dulu ya ceritaku menyapa Gunung Tidar.. Tetap nikmati setiap detik perjalananmu. Gak usah ngoyo. Berjalan aja cukup, kecuali kalau lagi banyak tenaga, silakan berlari. Oke, see you 🙂

Advertisements