journey (n) 1. going to a place, excursion. 2. distance travelled.
(v) 3. travel, go, move, tour, progress.

Perjalanan, dalam Collins Dictionary & Thesaurus Pocket memiliki dua makna. Ia bisa berarti kata benda dan kata kerja. Sebagai kata benda, perjalanan memiliki arti yang sama dengan pesiar, darmawisata, dan jarak dalam berpergian. Sedangkan sebagai kata kerja, perjalanan adalah melakukan perjalanan, melakukan perpindahan, mengalami kemajuan, dan kata lain yang sama arti.

Too seriuous? Are’nt I? Wohoo… I am sorry… Sedikit pembahasan sok serius itu sebenarnya untuk mengawali prolog blog ini. Sesuai dengan judulnya, “The Journey: My Journey is My Life Journal, Mine is Yours, Let’s Share”, blog ini adalah perjalanan. Baik perjalanan yang bersifat kata benda maupun kata kerja. Dari definisi yang telah aku jelaskan diatas, aku mengambil kesimpulan sendiri tentang perjalanan. Aku pikir, aku tidak harus berpergian, tidak harus berpindah tempat untuk sebuah perjalanan. Perjalanan memiliki berbagai bentuk. Bahkan ketika duduk sambil berbincang termasuk perjalanan. Satu yang pasti perjalanan selalu menciptakan jarak. Tak mesti jarak antar ruang, bisa jadi jarak antar waktu.

Ke depannya nanti, perjalananku akan menyatu dan ku sebut mereka jurnal kehidupan, yeah, my life journal. Perlahan tapi pasti, coretan demi coretan akan menjadi bagian dari blog ini. Tidak harus sesuatu yang baik yang ku tuliskan di sini. Namanya juga perjalanan, bisa baik dan buruk. Bahkan Oliver Goldsmith pernah bilang kalau “Life is a journey that must be traveled no matter how bad the roads and accomodation” (http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/o/olivergold385689.html?src=t_journey). Bercerita, berbagi tidak harus sesuatu yang baik bukan? Toh, terkadang sesuatu yang buruk menjadi pelajaran yang baik bagi orang lain.

Sepertinya akan sering aku bercerita tentang perjalananku menikmati pantai dan ombaknya, atau kecintaanku kepada senja dan semburat jingganya, atau kegemaranku akan fotografi dan eksistensinya, atau pergumulan diriku tentang pertemuan dan perpisahan, memiliki dan melepaskan, dan berpuluh kontradiksi lainnya. Tentu tak akan selesai jika ku sebutkan satu persatu cerita apa yang akan ku buat. Ah, lagi-lagi namanya juga perjalanan. Bukankah sebaiknya kita fokus kepada prosesnya, bukan tujuannya? Sebab kebahagiaan akan kita temukan saat kita melakukan sesuatu, bukan ketika selesai mengerjakannya.

Saat ku ketikkan prolog ini, masih awal Febuari di taun 2015. Udara sedang dingin-dinginnya dan hujan lebih sering mengambil alih matahri di tengah siang bolong, membekukan. Katanya, seseorang akan lebih produktif bercerita tentang cinta di cuaca seperti ini. Segalanya mendadak menjadi syahdu, mengharu-biru, menggebu oleh rindu, dan aksesoris percintaan yang lebih lucu. (Hmm.. semoga aja aku tidak begitu! Hahahaha).

Akhirnya aku mulai menulis (lagi) setelah hal itu tertumpuk usang menjadi sebuah “wacana”. Butuh waktu  tak sebentar dan tekad sekuat baja (hih! lebay ya? wkwkwk) untuk mengeyahkan ocehan “sebentar, besok saja lah!, ah..ada kerjaan lain!, iya.. aku pikir dulu konsepnya!” dan another excuse untuk tidak mulai menulis. Tentunya aku tidak sendirian untuk mencapi jarak ini. Aku bukan tipe orang yang betah melakukan perjalan sendirian, hehehe.. Akan ku beritahu kalian bahwa ada seseorang yang menemaniku sampai akhirnya aku menulis (lagi). Sebut saja Dia- yang selalu aku repotkan, tapi tetap mendampingi. Dia yang ujarnya menjadi bom dan meledakkanku untuk menulis (lagi). Tunggu saja, nanti, suatu hari, tentangnya akan muncul di jurnal hidupku ini.

Aku kira, prolog sebuah perjalanan tidak perlu terlalu panjang. Keburu orang-orang penasaran dengan bagian isinya. Hei, selamat berjumpa kembali di perjalanan selanjutnya ya! Anggap saja, setiap cerita milikku adalah milikmu juga…

Regards,
Dee.

Advertisements